Fajarasia.id — Wakil Ketua MPR RI Lestari Moerdijat mengingatkan bahwa amanat konstitusi untuk melindungi segenap bangsa Indonesia harus menjadi perhatian serius para pemangku kepentingan dalam menyikapi dampak konflik Amerika Serikat (AS)–Israel dan Iran. Hal itu disampaikan Lestari dalam diskusi daring bertema “Nuklir atau Pergantian Rezim? Perang Iran dan Pengaruhnya Bagi Indonesia dan Dunia” yang digelar Forum Diskusi Denpasar 12, Rabu (4/3/2026).
Menurut Lestari, perang yang terjadi antara AS dan Iran merupakan buntut konflik berkepanjangan sejak Revolusi Iran 1979. Ia menekankan perlunya kebijakan tepat untuk mengantisipasi dampak perang yang tidak hanya dirasakan negara-negara Timur Tengah, tetapi juga berimbas ke seluruh dunia, termasuk Indonesia. “Amanat UUD 1945 untuk melindungi segenap bangsa dan ikut dalam perdamaian dunia mesti menjadi perhatian para pengambil keputusan,” ujarnya.
Dian Wirengjurit, mantan Dubes RI untuk Iran, menilai alasan AS menyerang Iran karena ancaman eksistensial terhadap Israel hanyalah dalih. Menurutnya, justru Iran yang eksistensinya terancam oleh AS dan Israel. Ia menegaskan upaya AS mengganti rezim di Iran akan sulit karena struktur kepemimpinan di negara tersebut sangat kuat.
Denni Puspa Purbasari, akademisi UGM, menyoroti dampak perang terhadap energi global. Ia memperkirakan blokade Selat Hormuz akan meningkatkan biaya logistik dan menurunkan kepercayaan pasar. “Harga minyak bisa melonjak 8–10% di awal perang, dan lebih tinggi bila konflik berlarut,” jelasnya. Dampak bagi Indonesia, menurut Denni, akan terlihat pada inflasi, neraca perdagangan, nilai tukar rupiah, dan fiskal. Ia menyarankan pemerintah fokus melindungi kelompok masyarakat rentan dari gejolak ekonomi.
Broto Wardoyo dari Universitas Indonesia menilai serangan AS ke Iran adalah bagian dari upaya paksa pergantian rezim. Ia mengingatkan bahwa AS sudah dua kali menyerang Iran sebelumnya, yakni Juni 2025 dan Februari 2026, dengan menyasar fasilitas nuklir dan struktur komando militer.
Hendra Manurung dari Universitas Pertahanan menilai respons Iran terhadap serangan AS–Israel adalah hal wajar. Ia menegaskan Iran tidak mungkin menggunakan nuklir sebagai senjata pemusnah massal karena merupakan penandatangan perjanjian nuklir untuk perdamaian.
Wartawan senior Usman Kansong menyoroti keresahan masyarakat Indonesia di tengah perang yang berlangsung. Ia menggambarkan kekhawatiran publik terkait ketersediaan bahan bakar menjelang Lebaran. Usman menekankan pentingnya transparansi pemerintah dalam menjelaskan dampak ekonomi akibat perang AS–Iran serta membangun solidaritas masyarakat melalui mitigasi ekonomi.
Ia bahkan menyarankan agar Indonesia mempertimbangkan keluar dari keanggotaan Board of Peace (BoP) dan merealokasi anggaran program Makan Bergizi Gratis untuk subsidi bahan bakar minyak. ****




