Fajarasia.id – TNI Angkatan Udara (AU) mengungkap sejumlah tantangan dalam penanganan bencana di wilayah Sumatra. Keterbatasan informasi dari daerah terdampak menjadi kendala utama sehingga menyulitkan penentuan lokasi yang paling cepat harus mendapat bantuan.
“Aspek paling sulit saat bencana adalah informasi. Banyak daerah terputus akses, sehingga kita kesulitan menentukan wilayah mana yang bisa segera dibantu,” ujar Asisten Operasi (Asops) Kepala Staf Komando Operasi Udara I (Kaskoopsud I), Kolonel PNB Gusti Made Yoga Ambara, dalam program TNI Menyapa di PRO3 RRI, Jakarta, Jumat (9/1/2026).
Untuk mempercepat distribusi bantuan, TNI AU memfungsikan Lanud Soewondo Medan dan Bandara Sultan Iskandar Muda Aceh sebagai pusat logistik. Dari dua pangkalan ini, puluhan ton bantuan disalurkan setiap hari ke sejumlah bandara di wilayah terdampak.
Yoga mencontohkan Bandara Bener Meriah sebagai salah satu tantangan tersendiri. Awalnya bandara tersebut tidak memiliki personel TNI AU, sehingga pengaktifan dilakukan bertahap mulai dari pengiriman helikopter hingga pembukaan komunikasi dasar.
“Kami punya prosedur dalam mengaktifkan bandara. Pertama kirim helikopter untuk memastikan kondisi. Setelah itu, kebutuhan dasar seperti listrik, internet, dan bahan bakar pesawat dipenuhi secara bertahap agar bandara siap menerima pesawat sipil maupun militer,” jelasnya.
Ia menegaskan, TNI AU berusaha hadir secepat mungkin setiap kali terjadi bencana sebagai bagian dari tugas penanggulangan. Yoga juga meminta masyarakat tidak ragu untuk meminta bantuan.
“Jangan ragu-ragu untuk meminta kehadiran kami. Karena tugas kami adalah membantu masyarakat,” tegasnya.
Dengan dukungan logistik dan kesiapan personel, TNI AU berharap penanganan bencana di Sumatra bisa lebih cepat, terkoordinasi, dan menjangkau daerah-daerah yang sebelumnya sulit diakses.





