Fajarasia.id – Presiden Prabowo menargetkan swasembada pangan selambat-lambatnya pada 2028-2029. Kepala Pusat Pengkajian dan Penerapan Agroekologi SPI, Muhammad Komarun Najmi, menilai langkah ini memerlukan strategi yang tepat.
Menurut Komar, kedaulatan pangan harus menjadi fondasi utama. “Kita harus mampu memproduksi, mendistribusi, dan mengonsumsi pangan sendiri,” ujarnya ,Senin (24/2/2025).
Namun, kebijakan sering tidak sejalan dengan implementasi di lapangan. Misalnya, pupuk organik kurang mendapat perhatian dibanding pupuk kimia sintetis.
Selain itu, penurunan kualitas lahan dan alih fungsi lahan menjadi tantangan besar. Reformasi agraria yang dijalankan harus lebih masif agar petani memiliki akses yang lebih adil terhadap lahan.
Diversifikasi pangan juga penting untuk mengurangi ketergantungan pada beras. Jagung, sagu, dan ketela perlu lebih didorong melalui kebijakan yang mendukung produksi dan distribusinya.
Jaminan pasar dan harga yang stabil sangat dibutuhkan agar petani lebih tertarik menanam alternatif pangan. Tanpa kepastian ini, diversifikasi sulit terwujud dalam skala besar.
Ketahanan pangan Indonesia bergantung pada kebijakan yang konsisten dan ekosistem pertanian yang mendukung. “Reforma agraria dan agroekologi adalah kunci keberhasilan swasembada pangan,” ujar Komar, mengakhiri.*****





