Fajarasia.id – Pemerintah Iran kembali menegaskan otoritasnya atas jalur pelayaran di Selat Hormuz, sekaligus memperingatkan negara-negara Timur Tengah agar tidak memihak Amerika Serikat. Pernyataan ini muncul sehari setelah serangan terhadap kapal di dekat Oman yang kembali memicu ketegangan kawasan.
Wakil Menteri Luar Negeri Iran Kazem Gharibabadi menegaskan, pelayaran aman tidak bisa dijamin tanpa peran Teheran. Televisi pemerintah Iran melaporkan tiga kapal tanker asing diperintahkan berbalik arah oleh Korps Garda Revolusi Islam (IRGC) karena berlayar tanpa izin.
Di sisi lain, pejabat AS menyebut tindakan Iran menghambat lalu lintas internasional. Menteri Luar Negeri AS Marco Rubio bersama Dewan Kerja Sama Teluk menyerukan navigasi bebas tanpa pungutan biaya maupun hambatan.
Selat Hormuz merupakan jalur vital yang dilalui seperlima pasokan minyak dan LNG dunia. Ketegangan terbaru membuat harga minyak turun lebih dari 3% pada Jumat (26/6). Saudi Aramco bahkan kembali melakukan pemuatan minyak di terminal Ras Tanura setelah sempat terhenti empat bulan.
Penasihat Pemimpin Tertinggi Iran, Ali Akbar Velayati, menegaskan stabilitas negara-negara Teluk bergantung pada pengelolaan Selat Hormuz oleh Iran. “Kelangsungan hidup strategis mereka bergantung pada toleransi Teheran,” ujarnya.
Ketegangan ini terjadi di tengah gencatan senjata rapuh antara Israel dan Hizbullah di Lebanon. Israel tetap menempatkan pasukan di wilayah selatan, sementara Iran menuntut penarikan penuh sebagai bagian dari kesepakatan sementara dengan AS.****





