PT Timah Bidik Komersialisasi Logam Tanah Jarang pada 2028

PT Timah Bidik Komersialisasi Logam Tanah Jarang pada 2028

Fajarasia.id  – PT Timah Tbk (TINS) mengungkapkan adanya potensi besar dari mineral ikutan dalam tambang timah yang selama ini belum tergarap optimal. Salah satu mineral tersebut adalah monasit, yang diketahui mengandung logam tanah jarang (LTJ) bernilai strategis tinggi.

Direktur Pengembangan Usaha PT Timah, Suhendra Yusuf Ratuprawiranegara, menjelaskan bahwa perusahaan selama ini berfokus pada penambangan timah. Namun, riset sejak 2010 menunjukkan bahwa mineral ikutan seperti monasit dapat menjadi pintu masuk pengembangan LTJ. “Di dalam timah terdapat mineral ikutan, salah satunya monasit, yang membuka peluang besar terhadap logam tanah jarang,” ujarnya dalam konferensi pers, Jumat (14/11).

PT Timah telah membangun pilot plant untuk memisahkan LTJ dari timah. Meski uji coba sudah dilakukan bertahun-tahun, hasilnya belum sepenuhnya memenuhi spesifikasi akhir, terutama dalam pemisahan fosfat agar kandungan uranium dan thorium sesuai standar.

“Spesifikasi produk akhir REE yang diharapkan masih belum tercapai,” kata Suhendra. Ia menambahkan, thorium yang muncul dari proses tersebut selama ini dianggap sebagai “harta karun” yang belum dimanfaatkan secara maksimal, baik di Indonesia maupun di luar negeri.

Untuk mempercepat pengembangan, PT Timah kini menggandeng regulator dan lembaga pendidikan dengan konsep triple helix. Langkah ini diharapkan mampu mendorong riset LTJ agar tidak berhenti pada tahap uji coba, melainkan masuk ke fase piloting project.

Potensi monasit yang dihasilkan juga cukup besar. Dari setiap 30 ribu ton timah, diperkirakan terdapat sekitar 1.500 ton monasit yang bisa dimanfaatkan. Dengan perhitungan tersebut, PT Timah menargetkan penyempurnaan pilot plant pada 2027 dan mulai masuk tahap komersialisasi pada 2028.

“Insya Allah di 2028 kita sudah bisa menjalankan proses komersialisasi,” tandas Suhendra.****

Pos terkait