Petani Minta Harga Adil dalam Program Bioetanol

Petani Minta Harga Adil dalam Program Bioetanol

Fajarasaia.id – Rencana pemerintah menggenjot produksi bioetanol sebagai campuran bahan bakar minyak (BBM) mendapat sorotan dari kalangan petani tebu. Asosiasi Petani Tebu Rakyat Indonesia (APTRI) menilai pasokan bahan baku berupa tetes tebu atau molase sebenarnya mencukupi untuk mendukung program pencampuran etanol hingga E10. Namun, harga molase yang terlalu rendah dinilai menjadi hambatan utama.

Ketua Umum APTRI, Soemitro Samadikoen, menjelaskan produksi tebu nasional sekitar 40 juta ton per tahun berpotensi menghasilkan 500 ribu kiloliter etanol, cukup untuk mendukung kebutuhan campuran E10. “Itu bisa E10,” ujarnya  di Jakarta, Selasa (26/5/2026).

Meski demikian, ia mengeluhkan harga molase domestik yang hanya dihargai sekitar Rp957 per kg, jauh di bawah harga ekspor yang bisa mencapai Rp1.500–Rp2.500 per kg. “Kalau dihargai segitu kan berarti tidak menghargai keringat kita, rugilah,” tegasnya.

Soemitro juga mempertanyakan keseriusan pemerintah dan kesiapan Pertamina dalam menyerap etanol domestik. Ia khawatir program bioetanol justru berujung pada meningkatnya impor etanol, termasuk dari Amerika Serikat. “Kalau ada perjanjian harus beli etanol dari sana satu juta kiloliter itu gimana? Untuk apa?” katanya.

Petani berharap pemerintah memastikan harga molase lebih adil dan menyerap produksi etanol dalam negeri agar program energi hijau tidak merugikan mereka.****

 

Pos terkait