Fajarasia.id — Dampak konflik antara Amerika Serikat, Israel, dan Iran mulai terasa luas, terutama bagi negara-negara berkembang di Asia, Afrika, dan Timur Tengah. Lonjakan harga energi akibat penutupan Selat Hormuz dan serangan ke fasilitas migas di kawasan Teluk menekan keras perekonomian Global South.
Sejumlah negara seperti Pakistan, Bangladesh, Sri Lanka, Yordania, Mesir, hingga Ethiopia menghadapi tekanan ganda. Ketergantungan pada impor energi dan keterbatasan fiskal membuat mereka kesulitan meredam kenaikan harga.
Di Pakistan, pemerintah mengambil langkah darurat dengan menutup sekolah, menerapkan kerja empat hari bagi aparatur, hingga kebijakan work from home. Meski subsidi bahan bakar diberlakukan, para ekonom memperingatkan dampak penuh akan segera dirasakan, terutama pada inflasi pangan.
Bangladesh melaporkan sejumlah wilayah kehabisan pasokan minyak meski penjatahan sudah diterapkan. Sementara Sri Lanka menetapkan hari libur setiap Rabu dan sistem tiket bahan bakar untuk menekan konsumsi. Di Mesir, pemerintah menaikkan harga bahan bakar hingga 22 persen dan membatasi operasional pusat perbelanjaan serta penerangan publik.
Tekanan semakin berat akibat depresiasi mata uang di banyak negara berkembang. Penguatan dolar AS membuat biaya impor energi melonjak tajam, memperburuk risiko inflasi global.
Para analis memperingatkan, jika konflik berlanjut, dunia berpotensi menghadapi “perang energi” yang menyasar fasilitas vital, dengan dampak paling berat dirasakan negara miskin yang sudah rapuh secara ekonomi.****




