Fajarasia.co – Kementerian Koordinator Bidang Pembangunan Manusia dan Kebudayaan (Kemenko PMK) punya tiga program aksi tahun 2022, terkait Revolusi Mental. Salah satunya menyangkut keterlibatan pengguna media sosial (medsos).
Koordinator Sekretariat Gugus Tugas Nasional Revolusi Mental Kemenko PMK Yayan Sopyani Alhadi mengatakan, bermedsos sehat perlu dilakukan. Hal itu guna menghindari perpecahan jelang kontestasi Pemilu 2024.
“Persoalan ketertiban di media sosial, ini menjadi ajang kita mengimplementasikan revolusi mental di Tahun 2022 ini,” katanya kepada Pro3 RRI, Jumat (19/8/2022). “Hal yang paling penting revolusi mental ini kan bukan gerakan politik.”
Melainkan, lanjut Yayan, ketertiban medsos merupakan gerakan sosial. Sehingga semua pihak diminta terlibat.
“Karena kalau kita membaca sistem negara maju tidak hanya ada aparat hanya birokrasi pemerintah,” ujarnya. “Tapi melibatkan civil society, economy society, political society, dan yang paling penting melibatkan media.”
Program aksi kedua, lanjutnya, yakni menanam 10 juta pohon di berbagai daerah. “Dunia akan mengalami perubahan iklim yang sangat luar biasa, dan ini menjadi tantangan dunia,” ucapnya.
Aksi ketiga, tambah Yayan, yakni menggelorakan kembali sistem ekonomi kerakyatan yang berbasis kepada koperasi. “Kita juga ada persoalan dengan ekonomi menghadapi liberalisme kapitalisme yang begitu dahsyat,” katanya.
Dikutip dari kominfo.go.id Revolusi Mental pertama kali dilontarkan oleh Presiden Soekarno pada Peringatan Hari Kemerdekaan 17 Agustus 1956. Soekarno melihat revolusi nasional Indonesia saat itu mandek, padahal tujuan revolusi untuk meraih kemerdekaan Indonesia seutuhnya belum tercapai.
Gerakan Revolusi Mental terbukti berdampak positif terhadap kinerja pemerintahan Jokowi. Dalam waktu singkat, banyak prestasi diraih berkat semangat integritas, kerja keras, dan gotong royong aparat negara dan masyarakat.*****




