Fajarasia.id – Pakar hubungan internasional Universitas Padjadjaran, Teuku Rezasyah, menegaskan bahwa Iran bukanlah negara yang mudah digoyahkan, apalagi dihancurkan oleh kekuatan militer negara mana pun, termasuk Amerika Serikat (AS).
Dalam webinar Global Insight Forum bertajuk “Setelah Venezuela, Iran & Greenland: ‘Siapa’ Target Selanjutnya”, Reza memaparkan sejumlah faktor strategis yang membuat Iran memiliki daya tahan kuat terhadap ancaman eksternal.
Menurutnya, ada enam alasan utama:
- Warisan peradaban besar – Iran merupakan salah satu pusat peradaban awal dunia, sejajar dengan China, India, dan Romawi. Kesadaran historis ini menumbuhkan semangat menjaga marwah bangsa.
- Kepemimpinan yang dihormati – Pemerintah Iran dianggap menunjukkan keteladanan ideologis dan berupaya memenuhi kebutuhan dasar rakyat, sehingga mendapat dukungan luas dari masyarakat.
- Militer mandiri – Iran memiliki teknologi pertahanan buatan sendiri, termasuk peluru kendali jarak pendek hingga jauh, serta angkatan laut yang aktif berlatih di perairan strategis.
- Strategi blokade Selat Hormuz – Dalam skenario konflik terbuka, Iran berpotensi menutup jalur vital perdagangan energi dunia, yang akan mengguncang pasar global.
- Kewaspadaan kawasan Teluk – Negara-negara sekitar menyadari potensi balasan Iran berupa serangan misil besar-besaran, yang dapat mengubah peta keamanan Timur Tengah.
- Kekuatan intelijen – Iran memiliki kemampuan mendeteksi dan menindak jaringan lawan, serta ketegasan dalam menghukum agen asing, yang menjadi faktor pencegah signifikan.
Reza menambahkan, pengalaman konflik sebelumnya menunjukkan bahwa serangan terhadap Iran bisa memicu kerusakan besar di kawasan, termasuk Israel, yang hanya mampu bertahan dengan bantuan langsung AS.
Ia juga menilai NATO enggan mendukung serangan militer terbuka terhadap Iran, karena telah belajar dari pengalaman panjang AS yang lebih banyak menggunakan tekanan ekonomi sebagai senjata geopolitik.
“Jika AS menyerang, kemungkinan besar hanya berupa serangan terbatas untuk menjaga citra di panggung internasional,” kata Reza.
Sebelumnya, Presiden AS Donald Trump memperingatkan Iran agar tidak melanjutkan program nuklir, dengan ancaman tindakan militer jika Teheran melanggar kesepakatan.





