Fajarasia.id – Menteri Perdagangan Budi Santoso menyampaikan neraca perdagangan Indonesia pada April 2026 mencatat surplus sebesar US$0,09 miliar. Surplus ini ditopang kinerja sektor nonmigas yang mencapai US$3,53 miliar, sementara sektor migas masih defisit US$3,44 miliar.
Secara kumulatif, Januari–April 2026, neraca perdagangan mencatat surplus US$5,64 miliar. Angka ini lebih rendah dibanding periode sama tahun 2025 yang mencapai US$11,07 miliar. “Surplus terutama didorong oleh sektor nonmigas, sementara migas masih mengalami defisit,” ujar Budi, Kamis (4/6/2026).
Tiga komoditas utama penyumbang surplus terbesar adalah minyak nabati senilai US$11,71 miliar, bahan bakar mineral US$8,34 miliar, serta besi dan baja US$5,71 miliar. Adapun defisit terbesar berasal dari impor mesin mekanis senilai US$9,87 miliar.
Dari sisi mitra dagang, Amerika Serikat menjadi penyumbang surplus terbesar dengan nilai US$6,81 miliar, disusul India US$4,44 miliar dan Filipina US$2,77 miliar. Sementara defisit terdalam terjadi dengan Tiongkok sebesar US$8,03 miliar.
Budi menegaskan pemerintah akan memperkuat diversifikasi pasar ekspor, hilirisasi industri, serta peningkatan produk bernilai tambah agar perdagangan nasional tidak bergantung pada fluktuasi harga global. “Kemendag terus bersinergi menjaga stabilitas perdagangan dan mendukung pertumbuhan ekonomi berkelanjutan,” katanya.****





