Malaysia Jadi Raja Penjualan Mobil ASEAN, Industri Otomotif RI Ketar-ketir

Malaysia Jadi Raja Penjualan Mobil ASEAN, Industri Otomotif RI Ketar-ketir

Jakarta – Peta persaingan otomotif di Asia Tenggara mulai bergeser. Malaysia kini resmi menyalip Indonesia sebagai negara dengan penjualan mobil tertinggi di kawasan. Kondisi ini membuat pelaku industri otomotif Tanah Air resah, lantaran capaian Negeri Jiran sudah melampaui proyeksi penjualan domestik tahun ini.

Malaysia Lampaui Indonesia Ketua Umum Gabungan Industri Kendaraan Bermotor Indonesia (Gaikindo), Putu Juli Ardika, mengungkapkan penjualan mobil di Malaysia sepanjang Januari–November 2025 sudah menembus 720 ribu unit. Sementara Indonesia pada periode yang sama baru mencapai 710 ribu unit.

“Malaysia paling tidak sudah mendekati 800 ribu. Kalau kita kan 780 ribuan untuk proyeksi tahun ini. Jadi sudah melampaui kita,” kata Putu, Minggu (4/1/2026).

Rahasia Malaysia: Insentif Mobil Nasional Menurut Putu, salah satu faktor pendorong kuat di balik kinerja Malaysia adalah kebijakan insentif besar-besaran untuk mobil nasional. Stimulus ini dinilai memberi dorongan signifikan terhadap penjualan.

“Dia memberikan insentif luar biasa bagi mobil nasionalnya, juga stimulus-stimulus lain,” ujarnya.

Ancaman Daya Saing RI Gaikindo menilai kondisi ini tidak bisa dianggap sepele. Jika Indonesia terus tertinggal, dampaknya bisa merembet ke persepsi investor terhadap industri otomotif nasional.

“Kalau sampai kita jatuh di bawah, keyakinan investasinya akan berbeda sekali,” tegas Putu.

Investor Bisa Kabur ke Malaysia Wakil Presiden Direktur PT Toyota Motor Manufacturing Indonesia (TMMIN), Bob Azam, juga mengingatkan risiko besar jika tren ini berlanjut.

“Kalau situasi ini berlanjut terus, nanti investasinya akan masuk ke Malaysia, bukan ke Indonesia. Itu yang harus kita perhatikan bersama,” kata Bob kepada CNBC Indonesia.

Gaikindo Dorong Langkah Strategis Dengan Malaysia kini memimpin penjualan mobil di ASEAN, Gaikindo mendesak adanya langkah strategis agar Indonesia tidak semakin tertinggal. Persaingan kawasan dinilai akan semakin ketat, terutama dalam menarik investasi baru di sektor otomotif.

Pos terkait