Fajarasia.id – Anggota Komisi IV DPR RI Johan Rosihan menegaskan rencana pembukaan lahan kelapa sawit di Papua tidak boleh mengabaikan keselamatan lingkungan dan keadilan sosial. Ia mengingatkan, sekali salah langkah, dampaknya bisa serius dan sulit dipulihkan.
“Papua bukan laboratorium coba-coba kebijakan. Pembangunan energi harus sejalan dengan keselamatan lingkungan dan keadilan sosial,” kata Johan dalam keterangan di Jakarta, Rabu.
Johan mendorong pemerintah melakukan kajian lingkungan hidup strategis secara terbuka sebelum merealisasikan rencana besar pembangunan energi di Papua. Legislator yang membidangi lingkungan hidup itu juga menekankan perlunya audit menyeluruh terhadap perizinan lahan serta pelibatan masyarakat adat sebagai subjek utama pembangunan.
Menurut Johan, wacana penanaman sawit di Papua tidak bisa hanya dilihat dari sisi ekonomi atau ketahanan energi. “Sawit bukan otomatis salah, tapi risikonya besar jika ditanam tanpa perencanaan ekologis yang ketat serta tanpa menghormati hak masyarakat adat,” ujarnya. Ia mencontohkan bencana ekologis di Aceh dan Sumatera yang harus dijadikan pelajaran nasional.
Johan menilai Papua memiliki karakter ekologis yang sensitif dengan hutan alam luas, wilayah adat kompleks, serta fungsi hidrologi yang lebih rentan dibanding daerah lain. Karena itu, kebijakan sawit di Papua tidak bisa disamakan dengan wilayah lain. “Pendekatan pembangunan harus berbasis ilmu pengetahuan dan penghormatan terhadap masyarakat adat,” tegasnya.
Sebelumnya, Presiden Prabowo Subianto menegaskan komitmen pemerintah mewujudkan swasembada energi nasional untuk mengurangi ketergantungan impor BBM. Ia menyebut impor BBM Indonesia mencapai Rp520 triliun per tahun, dan negara bisa menghemat Rp250 triliun jika ketergantungan impor dikurangi setengahnya.
Prabowo menargetkan pada 2026 Indonesia tidak lagi impor solar, disusul bensin. Menurutnya, potensi energi baru terbarukan (EBT) di berbagai daerah, termasuk Papua, bisa menjadi kunci. Selain EBT, ia juga mendorong pemanfaatan bioenergi dari sawit, tebu, dan singkong sebagai bahan baku biodiesel dan bioetanol.
“Kita berharap di Papua pun harus ditanam kelapa sawit supaya bisa menghasilkan BBM dari sawit, juga tebu menghasilkan etanol,” kata Prabowo.






