Fajarasia.id – Minoritas Muslim Spanyol yang jumlahnya cukup besar tidak dapat beribadah secara bebas. Dewan Spanyol mengabaikan izin perencanaan pembangunan masjid.
Islamofobia Spanyol memaksa Muslim untuk terus hidup di pinggiran. Seperti banyak masjid di Spanyol, Masjid Tuba di Santa Coloma de Gramenet tidak terlihat seperti masjid yang seharusnya. Masjid yang bahkan lebih mirip gubuk itu, dibangun sebagai ruang ibadah, yang bahkan tak layak disebut sebagai masjid.
“Ini bukan masjid,” ujar Omar Majdi, yang merasa malu untuk menyebutnya sebagai masjid, yang dikutip dari Arab News, Selasa (11/7/2023).
Komunitas Muslim Sannta Coloma de Gramenet berakhir dalam situasi ini setelah mereka mencoba membuka masjid kecil di pusat kota pada 2004. Meskipun mematuhi semua aturan dewan kota untuk pendirian ruang ibadah, inisiatif tersebut disambut reaksi keras dari warga sekitar.
Warga protes dengan cara memukulkan panci yang mengganggu ibadah, mengumpulkan tanda tangan untuk menutup masjid dan pelecehan terhadap jamaah mendorong wali kota untuk campur tangan, tetapi tetangga tidak mau berhenti. Akhirnya, wali kota menempatkan beberapa gubuk di sebidang tanah terpencil yang jauh dan meminta komunitas Muslim pindah ke sana sampai mereka menemukan solusi.
Lalu, 19 tahun kemudian, warga Muslim Santa Coloma tetap tanpa ruang ibadah yang layak dan dapat diakses dan ini bukan kasus yang terisolasi. Pasal 16 Konstitusi Spanyol menyatakan kebebasan ideologis dan agama individu dan komunitas harus dijamin tanpa batasan apa pun.
Tanggung jawab untuk melindungi hak-hak tersebut dan mengatur ruang ibadah berada di bawah yurisdiksi pemerintah daerah. Namun, ini pada gilirannya meneruskan masalah ini kepada dewan kota. Tergantung pada sifat politik mereka, dewan kota membuat undang-undang untuk menghalangi pendirian masjid.
Seorang aktivis untuk hak-hak Muslim di Catalonia Mustafa Aoulad Sellam mengklaim pemerintah daerah pada 2010 ingin memberi dewan kota ruang untuk membuat persyaratan yang harus dipenuhi oleh ruang ibadah. Bahkan, undang-undang tanah terbaru di kota Santa Coloma de Gramenet yang dibuat pada 2013 meminta hal-hal, seperti jarak 250 meter antara dua ruang ibadah yang berbeda atau setidaknya pintu masuk utama terletak di jalan selebar enam meter.
“Tapi hampir tidak ada jalan seperti itu di kota yang padat seperti Santa Coloma,” kata Mustafa.
Presiden Komunitas Islam Catalonia Mohamed El Ghaidhouni,menegaskan ini adalah praktik umum di antara dewan kota. “Tidak mau membela komunitas agama minoritas, mereka memilih solusi yang mudah, memindahkan ruang ibadah ke pinggiran,” katanya.
Komunitas Muslim lainnya terus mengalami pelecehan dan pengabaian institusional yang sama. Mahmoud, dari kota pesisir Premià de Mar, menceritakan bagaimana komunitas Muslim kota itu membeli premis untuk membangun masjid mereka 15 tahun yang lalu. Namu, mereka tidak pernah dapat menggunakannya karena tanggapan warga sekitar.
Dewan kota memutuskan membela hak-hak agama bukanlah prioritas mereka. “Di Spanyol, bahkan jika Anda mematuhi hukum, bahkan jika Anda memiliki izin, persetujuan dari arsitek dan insinyur dan akhirnya dewan kota, Anda juga harus memiliki izin dari tetangga. Dan orang-orang di Spanyol takut dengan masjid mana pun yang mereka lihat, mereka menganggap kami semua sebagai teroris,” kata Mahmoud dengan marah.
Liputan serangan teroris di media Barat telah banyak merugikan komunitas Muslim. Sekretaris Komunitas Islam kota Hospitalet de Llobregat, Aziz Sabbani, mengatakan sejak serangan 9/11, aparat pertahanan datang secara teratur ke masjid untuk mengawasi komunitas. Mereka datang dengan cara menyamar dan tidak terang-terangan mengaku sebagai otoritas pertahanan. Mereka akan bertanya tentang banyak hal.***




