Jeritan Ibu Santri NTB Guncang Ruangan Rapat Komisi III DPR

Jeritan Ibu Santri NTB Guncang Ruangan Rapat Komisi III DPR

Fajarasia.id – Jeritan hati seorang ibu dari Lombok Tengah mengguncang ruang sidang Komisi III DPR RI. Ia datang jauh ke Jakarta, Senin (13/7), untuk mencari keadilan atas kematian putranya, Sahril Sobirin, santri Pondok Pesantren Rosudatussaulatiyah Al Ibrahimy, yang tewas dibakar seniornya.

Tangisnya pecah saat surat terbuka dibacakan oleh tim advokasi hukum Hotman 911. Dalam surat itu, sang ibu menegaskan anaknya dikirim ke pesantren untuk menuntut ilmu agama, bukan untuk dianiaya hingga kehilangan nyawa. “Saya hanyalah seorang ibu kampung yang miskin dan kini sakit-sakitan karena hancurnya hati melihat anak saya dibakar hidup-hidup,” demikian isi surat yang dibacakan dengan suara bergetar.

Keluarga korban menduga ada kongkalikong aparat di daerah sehingga penanganan kasus berjalan lambat. Mereka bahkan mengaku mendapat tekanan setelah menolak menandatangani surat kesepakatan damai yang disodorkan pihak tertentu.

Kasus ini bermula dari aksi perundungan yang dilakukan pelaku terhadap santri junior. Tak terima dilaporkan ke pengurus pesantren, pelaku membalas dengan aksi brutal membakar tiga santri, hingga SS meninggal dunia akibat luka bakar parah.

Ketua Komisi III DPR RI, Habiburokhman, menegaskan parlemen tidak akan tinggal diam. “Insya Allah, kami akan mengerahkan kewenangan pengawasan agar almarhum dan keluarga memperoleh keadilan yang seadil-adilnya,” ujarnya. DPR berjanji mengawal ketat penyidikan dan memastikan tidak ada ruang bagi oknum di daerah untuk bermain-main dengan hukum.

Kasus ini menjadi sorotan publik, menyingkap rapuhnya perlindungan santri di lingkungan pendidikan agama, sekaligus menegaskan tuntutan agar negara hadir penuh melindungi anak-anak dari kekerasan.****

 

Pos terkait