Fajarasia.id – Swiss kembali jadi sorotan setelah ratusan ribu warganya memilih keluar dari keanggotaan gereja resmi negara. Langkah ini dilakukan untuk menghindari beban pajak gereja yang mencapai 1–3% dari pendapatan, tergantung kebijakan tiap kanton.
Data terbaru menunjukkan sekitar 100.000 orang meninggalkan Gereja Katolik dan Protestan sepanjang 2023, hampir dua kali lipat dibanding tahun sebelumnya. Tren ini paling tinggi terjadi di Basel-Stadt, dengan 4,5% penduduk resmi mundur dari gereja.
Fenomena ini bukan hanya soal pajak. Survei menunjukkan semakin banyak warga Swiss yang mengidentifikasi diri sebagai ateis, didorong oleh sekularisme dan sejumlah skandal di lingkungan gereja. Pada 2022, sekitar 34% populasi sudah menyatakan diri tidak beragama.
Gelombang “murtad pajak” ini menandai perubahan besar dalam lanskap sosial dan spiritual Swiss, sekaligus menegaskan bagaimana kebijakan fiskal dapat memengaruhi pilihan keagamaan masyarakat.****





