Fajarasia.id – Pertumbuhan ekonomi Indonesia pada kuartal I-2026 tercatat melampaui ekspektasi pasar dengan laju 5,61% secara tahunan. Di balik capaian ini, peran China semakin menonjol sebagai penopang utama, baik melalui investasi langsung maupun arus perdagangan.
Badan Pusat Statistik (BPS) mencatat konsumsi rumah tangga tetap menjadi motor utama, ditopang momentum Ramadan dan Idulfitri serta kebijakan harga BBM subsidi. Belanja pemerintah juga melonjak 21,81% yoy, terutama dari program Makan Bergizi Gratis (MBG).
Dari sisi eksternal, aliran Foreign Direct Investment (FDI) dari China naik 5,2% yoy, menjadi salah satu sumber dukungan penting di tengah keluarnya dana asing dari pasar saham dan obligasi domestik. Menurut laporan BCA, setiap US$1 juta FDI China mampu menciptakan sekitar 18,4 lapangan kerja, lebih tinggi dibandingkan rata-rata investasi dari negara lain.
Selain investasi, masuknya barang impor murah dari China membantu menahan kenaikan harga di dalam negeri. Namun, kondisi ini juga menimbulkan risiko bagi industri manufaktur lokal yang semakin sulit bersaing.
Peran China juga terlihat dari sisi pembiayaan. Pemerintah Indonesia mulai aktif menerbitkan obligasi berdenominasi yuan atau dim sum bond untuk menekan biaya utang. Meski menarik, instrumen ini membawa risiko currency mismatch karena penerimaan negara tidak seluruhnya berbasis yuan.
Di balik pertumbuhan yang kuat, BCA mengingatkan adanya tekanan pada neraca berjalan. Ekspor barang hanya tumbuh tipis 0,17% yoy, sementara impor melonjak 7,18% yoy, sehingga kebutuhan impor meningkat lebih cepat dibandingkan ekspor.
Dengan demikian, meski investasi dan dukungan China membantu menjaga momentum pertumbuhan, tantangan besar tetap ada pada neraca pembayaran dan daya saing industri domestik.****





