Fajarasia.id – Dewan Keamanan (DK) PBB mengatakan warga Palestina di Jalur Gaza tidak dapat dipindahkan secara paksa, Jumat (12/1/2024). Mereka juga harus dapat kembali ke rumah mereka lagi.
Amar Bendjama, perwakilan tetap Aljazair untuk PBB, mengatakan apa yang terjadi di Gaza akan tetap menjadi “aib”. Bendjama mengatakan pemindahan paksa warga Palestina harus ditolak.
“Rencana pemindahan paksa kini terjadi di seluruh wilayah Palestina, melalui pemboman dan penghancuran, serta melalui pemukiman dan aneksasi. Setiap orang harus memahami bahwa tidak ada tempat bagi warga Palestina kecuali di tanah mereka,” kata Bendjama, seperti dikutip dari Anadolu Agency, Sabtu (13/1/2024).
Menurutnya, pengeboman ‘biadab’ terhadap Gaza dan penghancuran semua tanda-tanda kehidupan di Gaza jelas membuat Gaza “tidak dapat dihuni”. Ia mendesak komunitas internasional, khususnya Dewan Keamanan, untuk berbicara dengan satu suara yang kuat menentang pengungsian warga Palestina.
“Tidak seorang pun di dalam ruangan ini bisa tinggal diam. Ketika rencana tersebut terungkap, diam adalah bentuk keterlibatan,” tambahnya.
Linda Thomas-Greenfield, utusan AS untuk PBB, mengatakan situasi ini “memilukan dan tidak dapat dipertahankan”. Menurutnya, Washington menegaskan warga sipil tidak boleh dipaksa meninggalkan Gaza dalam keadaan apa pun.
“Posisi Amerika Serikat sudah jelas dan konsisten: warga sipil Palestina di Gaza harus bisa kembali ke rumah mereka sesegera mungkin jika kondisinya memungkinkan. Kami dengan tegas menolak pernyataan beberapa menteri dan anggota parlemen Israel yang menyerukan pemukiman kembali warga Palestina di luar Gaza,” katanya.
“Pernyataan-pernyataan ini, bersama dengan pernyataan para pejabat Israel yang menyerukan penganiayaan terhadap tahanan Palestina atau penghancuran Gaza, tidak bertanggung jawab, menghasut, dan hanya membuat lebih sulit untuk mengamankan perdamaian abadi.”
Perwakilan Tetap Inggris untuk PBB, Barbara Woodward, mengatakan negaranya menolak tegas segala usulan sepert itu. Itu termasuk usulan dari pemerintah Israel agar warga Palestina harus dimukimkan kembali di luar Gaza.
“Pandangan dan keprihatinan kami juga dimiliki oleh sekutu dan mitra kami bahwa warga Gaza tidak boleh menjadi sasaran pengungsian paksa atau relokasi dari Gaza,” kata Woodward.
Dalam 100 hari serangan Israel di Gaza, hampir setiap orang Palestina di Gaza telah mengungsi beberapa kali. Penjelasan tersebut disampaikan utusan Palestina untuk PBB Riyad Mansour saat berpidato di depan Dewan Keamanan PBB.
“Dari rumah, tempat penampungan PBB, hingga tenda. Mencari keselamatan, di mana-mana. Tidak menemukan keselamatan di mana pun. Mencari kehidupan di mana pun, menemui kematian di mana-mana,” kata Mansour.
“Warga Palestina di Gaza hari ini berduka atas orang-orang yang mereka cintai, dan berduka atas rumah mereka. Mereka berduka atas Jalur Gaza karena semua markah tanah telah hancur. Setiap tempat yang menjadi kenangan indah bagi orang-orang telah rusak.”
Utusan Israel untuk PBB Gilad Erdan mengatakan ini adalah pertemuan Dewan Keamanan ke-21 sejak 7 Oktober. Ia mengulangi tidak ada resolusi yang mengecam Hamas karena membunuh 1.300 warga Israel dan menyandera 240 orang.
“Biar saya perjelas, tidak ada pemindahan paksa. Seperti yang dikatakan Perdana Menteri Israel (Benjamin Netanyahu) dua hari lalu, Israel tidak berniat menggusur penduduk di Gaza,” katanya.
“Israel hanya memerangi teroris Hamas, yang strategi intinya adalah menggunakan warga sipil sebagai tameng manusia, dan yang telah mengubah setiap inci Gaza menjadi mesin perang teror,” katanya.
Setidaknya 23.708 warga Palestina telah terbunuh, sebagian besar perempuan dan anak-anak, dan 60.050 orang terluka. Informasi tersebut dikeluarkan otoritas kesehatan Palestina.***





