Fajarasia.id – Ketegangan di Laut China Selatan kembali meningkat setelah militer China mengusir kapal fregat Belanda, HNLMS De Ruyter, yang beroperasi di dekat Kepulauan Paracel. Insiden ini terjadi Kamis (28/5) dan memicu protes keras dari Beijing.
Juru bicara militer China, Zhai Shichen, menuduh kapal Belanda melanggar kedaulatan teritorial serta meluncurkan helikopter ke wilayah udara China. “Tindakan pihak Belanda sangat merusak perdamaian dan stabilitas di Laut China Selatan,” ujarnya sebagaimana dikutip Redaksi pada Sabtu (30/5).
Angkatan Laut Belanda membantah tuduhan tersebut. Juru bicara Marinka Hiraldo Vos-van Kooten menegaskan kapal mereka beroperasi sesuai hukum internasional. “HNLMS De Ruyter terus berlayar di perairan di mana pergerakan bebas diizinkan,” katanya.
Pengusiran ini menyoroti klaim ekspansif China atas hampir seluruh Laut China Selatan melalui sembilan garis putus-putus. Putusan pengadilan arbitrase Den Haag pada 2016 sebelumnya menyatakan klaim tersebut melanggar Konvensi PBB tentang Hukum Laut (UNCLOS), namun Beijing menolak hasilnya.
Kapal De Ruyter sendiri tengah menjalankan misi lima bulan di Indo-Pasifik, termasuk latihan bersama India dan Indonesia. Insiden terbaru ini diperkirakan akan menjadi sorotan dalam forum pertahanan Shangri-La Dialogue di Singapura pada akhir Mei.****





