Fajarasia.id – Dalam momentum peringatan Hari Santri Nasional yang jatuh pada 22 Oktober, Erwin Syahputra Siregar, Alumni Pondok Pesantren Ahmadul Jariah, mengangkat pentingnya peran pesantren dalam membentuk karakter bangsa melalui jalur sastra. Menurutnya, kontribusi pesantren tidak hanya terbatas pada pendidikan agama, tetapi juga turut memperkaya dunia literasi Indonesia.
Erwin menyampaikan bahwa persepsi umum terhadap pesantren sering kali terbatas pada pengajaran ilmu keislaman. Padahal, banyak pesantren masa kini telah mengintegrasikan ilmu pengetahuan umum dan penguasaan bahasa asing seperti Arab dan Inggris. Namun, yang kerap luput dari perhatian adalah peran pesantren sebagai ruang tumbuhnya karya sastra dan para sastrawan.
Ia menyoroti sejumlah tokoh sastra yang berasal dari lingkungan pesantren, seperti KH D Zawawi Imron dari Sumenep yang dikenal dengan julukan “Celurit Emas”, serta KH Mustofa Bisri atau Gus Mus dari Rembang yang puisinya dikenal karena gaya bahasa yang khas. Nama-nama lain seperti Emha Ainun Najib (Cak Nun), Acep Zamzam Noor, Jamal D Rahman, dan Ahmad Fuadi juga disebut sebagai contoh santri yang berhasil menorehkan prestasi di dunia sastra.
Lebih lanjut, Erwin menjelaskan bahwa kata “santri” memiliki akar dari bahasa Sanskerta “sastri”, yang berarti pembelajar teks suci atau indah. Hal ini menunjukkan bahwa tradisi sastra telah lama hidup dalam budaya pesantren. Para ulama terdahulu memanfaatkan syair sebagai sarana dakwah, seperti KH As’ad Syamsul Arifin dari Situbondo yang menggunakan syair berbahasa Madura untuk menyampaikan pesan spiritual dan sosial.
Tokoh muda Situbondo, KHR Achmad Azzaim Ibrahimy, bahkan menyebut pesantren sebagai tempat bersemainya sastra. Di sana, nilai-nilai seperti kesantunan, keindahan bahasa, dan kelembutan hati diajarkan melalui karya sastra. Sastra menjadi medium bagi santri untuk memahami ajaran Islam secara mendalam dan penuh hikmah.
Untuk itu menurut Alumni Pondok Pesantren Ahmadul jariah ini, Dalam kehidupan sosial, sastra juga berperan menjaga sikap toleran dan damai di kalangan santri. Ketika sebagian pihak cenderung memahami agama secara rigid, santri tetap teguh pada prinsip Islam yang membawa rahmat bagi seluruh alam. Sastra menjadi alat ekspresi yang lembut dan penuh refleksi dalam menyampaikan nilai-nilai tersebut.
Pemerintah pun menunjukkan dukungan terhadap pesantren melalui berbagai program pendidikan formal dan alokasi dana, sebagai bentuk pengakuan atas kontribusi pesantren dalam menjaga harmoni sosial dan budaya bangsa.
” Jadi di tengah arus modernisasi yang serba cepat, pesantren dan para santri tetap menjaga api sastra sebagai warisan budaya yang memperkaya batin masyarakat. Keduanya, dalam harmoni yang indah, terus menanamkan nilai-nilai luhur demi kebaikan bersama.” Tutupnya.****





