Fajarasia.id – Pemerintah resmi menganugerahkan gelar Pahlawan Nasional kepada 10 tokoh melalui Keputusan Presiden (Keppres) Nomor 116/TK/Tahun 2025. Upacara di Istana Negara berlangsung penuh haru, dengan keluarga penerima gelar larut dalam suasana emosional. Namun, dari daftar penerima, tidak ada nama tokoh asal Maluku, Abdul Muthalib Sangadji, yang selama ini diusulkan sebagai pahlawan.
Aktivis nasional asal Maluku, Sandri Rumanama, menyayangkan keputusan tersebut. Ia menilai pemerintah perlu menjelaskan kriteria penilaian yang digunakan dalam menetapkan gelar kehormatan. “Pemerintah seakan menutup mata terhadap fakta perjuangan Abdul Muthalib Sangadji yang jelas memiliki kontribusi nyata dalam perjuangan kemerdekaan,” tegas Sandri.
Sebagai bentuk protes, Koalisi Organisasi Nasional dan Organisasi Timur Indonesia berencana menggelar konsolidasi di Menteng, Jakarta, pada Rabu (12/11). Mereka mendesak pemerintah membuka kriteria penetapan gelar pahlawan agar publik memahami alasan di balik keputusan tersebut.
Sandri menambahkan, perjuangan Sangadji bukan sekadar catatan administratif, melainkan bagian penting dari sejarah bangsa. Sangadji dikenal aktif melawan kolonialisme dan berperan dalam Sarekat Islam bersama tokoh besar seperti Oemar Said Tjokroaminoto dan H. Agus Salim. Ia juga tercatat sebagai anggota BPUPKI yang ikut merumuskan dasar negara.
Di sisi lain, pemerintah menegaskan bahwa proses penetapan gelar Pahlawan Nasional dilakukan melalui mekanisme panjang, melibatkan tim ahli sejarah, akademisi, dan lembaga terkait. Penilaian mencakup bukti historis, rekam jejak perjuangan, serta dampak nasional dari kiprah tokoh yang diusulkan.
Meski demikian, sejumlah pihak berharap polemik ini dapat diselesaikan secara terbuka. Penghargaan terhadap pahlawan, menurut mereka, seharusnya menjadi simbol pemersatu bangsa, bukan sumber kekecewaan bagi daerah yang merasa terpinggirkan.
Sosok Abdul Muthalib Sangadji
- Nama lengkap: Abdoel Moethalib Sangadji
- Julukan: Jago Tua
- Lahir: 3 Juni 1889, Negeri Rohomoni, Pulau Haruku, Maluku Tengah
- Wafat: 20 April 1949
- Peran: Pendiri Sarekat Islam, tokoh pergerakan dari Timur, anggota BPUPKI
- Latar belakang: Putra dari keluarga bangsawan lokal, menempuh pendidikan HIS dan MULO, serta pernah bekerja di kantor pemerintahan kolonial sebelum aktif dalam pergerakan nasional.****




