Fajarasia.id — Dinas Keamanan Federal Rusia (FSB) mengklaim berhasil mematahkan upaya sabotase canggih yang dirancang badan intelijen Ukraina. Operasi berisiko tinggi ini menyusupkan bahan peledak ke dalam perangkat headset drone yang menyasar langsung para operator pesawat nirawak militer Rusia.
Modus operandi yang digunakan dinilai mengadopsi taktik operasi intelijen Israel (Mossad) saat menargetkan ribuan pager kelompok Hizbullah di Lebanon pada 2024. Bedanya, intelijen Ukraina memanfaatkan celah pada jaringan organisasi sukarelawan logistik yang rutin memasok kebutuhan prajurit di garis depan.
Penyelidikan FSB mengungkap bahwa bahan peledak tersebut disembunyikan di dalam kompartemen kipas pendingin headset first-person view (FPV). Upaya ini terbongkar setelah seorang prajurit Rusia mencurigai penawaran perangkat gratis dari donatur tak dikenal dan melaporkannya ke tim kontraintelijen militer. Setelah diperiksa oleh spesialis bom, peralatan tersebut dikonfirmasi telah dipasangi jebakan peledak mematikan.
“Agen intelijen Ukraina memanfaatkan manipulasi psikologis untuk merebut kepercayaan kelompok sukarelawan skala kecil dengan dalih menghindari risiko penggelapan bantuan,” tulis laporan pihak keamanan Rusia, Selasa (3/11/2026).
Operasi sabotase berskala Mikro ini bukan kali pertama terjadi. Pada awal 2025, Kyiv sempat mengklaim bertanggung jawab atas pengiriman 80 kacamata drone Skyzone Cobra X V4 berisi peledak yang melukai sejumlah prajurit. Selain itu, pada Maret lalu, FSB juga menghentikan peredaran lebih dari 500 sol sepatu berpemanas listrik yang telah dimodifikasi dengan jebakan serupa.
Menanggapi maraknya ancaman ini, FSB mengimbau seluruh organisasi relawan agar menolak donasi dari pihak berselubung anonimitas. Permintaan bukti video penyerahan barang oleh donatur juga diidentifikasi sebagai salah satu indikator kuat dari pola sabotase tersebut.***





