Fajarasia.id — Menteri Perminyakan Iran Mohsen Paknejad mengundurkan diri di tengah tekanan ekonomi yang semakin berat. Pendapatan minyak merosot, inflasi melonjak, dan nilai tukar rial terus tertekan.
Presiden Iran Masoud Pezeshkian mengatakan telah menerima pengunduran diri Paknejad. Sang menteri disebut mengajukan pengunduran diri karena alasan pribadi.
Keputusan tersebut muncul beberapa hari setelah muncul tuduhan terkait pengelolaan penjualan minyak Iran ke luar negeri. Lembaga perantara yang digunakan untuk transaksi minyak disebut menunggak hampir 2 miliar dollar AS kepada perusahaan minyak negara, National Iranian Oil Company (NIOC).
Tekanan ekonomi Iran semakin terasa setelah nilai rial melemah lebih dari 10 persen dalam sebulan terakhir. Nilai tukar dolar AS dilaporkan mencapai sekitar 269.000 toman atau 2,69 juta rial per dollar AS.
Inflasi pangan bahkan disebut mencapai 130 persen, sementara inflasi secara keseluruhan dilaporkan berada di sekitar 85 persen.
Perekonomian Iran juga mengalami kontraksi sekitar 10 persen dalam tiga bulan pertama tahun ini. Merosotnya pendapatan minyak membuat ketersediaan devisa semakin terbatas.
Kondisi tersebut diperburuk oleh gangguan terhadap ekspor minyak, yang selama ini menjadi salah satu sumber utama pendapatan pemerintah Iran.
Persoalan pengelolaan pendapatan ekspor minyak turut menjadi sorotan. Media Iran melaporkan adanya dugaan utang hampir 2 miliar dollar AS kepada NIOC oleh lembaga perantara yang dibentuk pada masa jabatan Paknejad.
Parlemen Iran kemudian memulai penyelidikan atas dugaan tersebut.
Dampak krisis juga dirasakan masyarakat. Sejumlah pekerja profesional, termasuk perawat dan guru, dilaporkan menghadapi tekanan ekonomi akibat pendapatan yang tidak sebanding dengan meningkatnya biaya hidup.
Pemerintah Iran mencoba menahan tekanan tersebut dengan membekukan harga 12 kebutuhan pokok selama enam bulan dan mempertimbangkan kenaikan upah bagi pekerja sektor publik.
Namun, ketidakpastian ekspor minyak dan situasi keamanan di sekitar Selat Hormuz masih menjadi tantangan bagi pemerintah Iran untuk memulihkan perekonomian dan menjaga daya beli masyarakat.***





