Airlangga: IMF Pernah Tolak Indonesia Kembangkan Industri Pesawat

Airlangga: IMF Pernah Tolak Indonesia Kembangkan Industri Pesawat

Fajarasia.id — Menteri Koordinator Bidang Perekonomian Airlangga Hartarto menilai kemajuan industri teknologi Indonesia tidak selalu mendapat dukungan dari pihak asing. Ia mencontohkan pengembangan pesawat CN235 yang disebutnya pernah mendapat penolakan dari Dana Moneter Internasional (IMF).

Airlangga mengungkapkan, pengembangan CN235 merupakan salah satu terobosan Indonesia dalam membangun kemandirian industri dirgantara. Saat itu, Indonesia bahkan berencana meningkatkan kapasitas pesawat hingga mampu mengangkut 100 penumpang.

“Pada waktu kita kembangkan CN235, itu terobosan. Dan masalah turboprop dan jet engine, tidak persoalan karena turboprop dan jet engine juga relatif maju bersama. Dan pada saat kita mau mendorong ke 100 penumpang, dunia kaget,” ujar Airlangga di Jakarta, Rabu (21/10/2026).

Menurut Airlangga, IMF saat itu menyampaikan bahwa Indonesia tidak perlu memiliki industri pesawat terbang. Ia menilai pandangan tersebut menjadi salah satu tantangan bagi upaya Indonesia mengembangkan teknologi strategis.

“Dan waktu itu IMF mengatakan Indonesia enggak boleh punya industri pesawat terbang karena ini industri yang dekat dengan masyarakat,” katanya.

Airlangga menilai, apabila pengembangan pesawat berkapasitas 100 penumpang dapat diwujudkan, Indonesia berpeluang memperkuat industri dirgantara sekaligus meningkatkan daya saing di pasar global.

Selain mendorong penguasaan teknologi, industri pesawat juga dinilai memiliki nilai ekonomi strategis. Pesawat berkapasitas menengah berpotensi mendukung konektivitas antardaerah dan memenuhi kebutuhan transportasi udara di berbagai negara.

Ia juga menyoroti panjangnya waktu tunggu pemesanan pesawat dari produsen besar dunia, seperti Airbus dan Boeing. Kondisi tersebut, menurut Airlangga, dapat menjadi peluang bagi Indonesia untuk menghidupkan kembali industri pesawat nasional.

“Airbus maupun Boeing kalau kita mau pesan pesawat itu, itu backlog. Backlog-nya bisa 10 tahun. Nah, oleh karena itu ini adalah kesempatan bagi kita untuk revitalisasi industri,” ujarnya.

Selain industri dirgantara, pemerintah juga berupaya memperkuat posisi Indonesia dalam industri semikonduktor, digitalisasi, dan kecerdasan buatan atau artificial intelligence (AI).

Salah satu langkah yang ditempuh ialah menjajaki kerja sama dengan Arm Ltd., perusahaan asal Inggris yang bergerak di bidang desain semikonduktor.

Dalam Sidang Pleno Ikatan Sarjana Ekonomi Indonesia (ISEI) pada Kamis (27/8/2026), Airlangga menyampaikan bahwa kerja sama tersebut diharapkan menjadi bagian dari upaya membangun ekosistem industri semikonduktor di Indonesia.

Pemerintah menargetkan kerja sama itu dapat membuka peluang bagi 15.000 tenaga kerja dalam tiga tahun untuk bekerja di sektor semikonduktor.

“Kita akan mendorong mesin pertumbuhan digitalisasi, semikonduktor, dan AI. Pemerintah untuk pertama kali bekerja sama dengan perusahaan desainer semikonduktor dari Inggris yang bernamanya ARM,” kata Airlangga.

Ia juga mencontohkan peran Arm dalam mendukung pengembangan ekosistem semikonduktor di Malaysia dan Korea Selatan. Menurut dia, pengalaman kedua negara tersebut menunjukkan bahwa Indonesia juga memiliki peluang untuk mengembangkan industri serupa.

“Dulu ARM membantu Korea Selatan dan Malaysia untuk mendukung industri semikonduktor ini, seharusnya Indonesia juga bisa,” tegasnya.

Pemerintah kini menghadapi tantangan untuk menerjemahkan ambisi tersebut menjadi penguasaan teknologi, penguatan sumber daya manusia, serta industri nasional yang mampu bersaing di pasar internasional.*****

Pos terkait