Fajarasia.id — Wakil Ketua Komisi IX DPR RI Charles Honoris mendesak pemerintah menindak tegas dapur penyedia Makan Bergizi Gratis (MBG) yang terbukti menyebabkan keracunan massal. Ia mengusulkan dapur tersebut ditutup secara permanen, bukan sekadar dihentikan sementara.
Desakan itu disampaikan menyusul dugaan keracunan setelah konsumsi menu MBG di Kota Cirebon, Jawa Barat, yang dilaporkan berdampak pada 270 orang. Dari jumlah tersebut, 231 orang merupakan anak-anak dan 39 lainnya orang dewasa.
“Saya sangat prihatin sekaligus marah melihat kasus dugaan keracunan MBG terus berulang. Kali ini di Cirebon, jumlah korban dilaporkan mencapai 270 orang. Sampai kapan anak-anak kita harus menjadi korban sebelum pemerintah benar-benar melakukan evaluasi menyeluruh terhadap program ini?” kata Charles, Kamis (22/10/2026).
Menurut Charles, keselamatan dan kesehatan penerima manfaat harus menjadi prioritas utama dalam pelaksanaan program MBG. Ia mengingatkan agar upaya memperluas penyaluran makanan tidak mengesampingkan standar keamanan pangan.
“Jangan sampai ambisi mengejar target penyaluran MBG justru mengabaikan standar keamanan pangan,” ujarnya.
Ia menilai, kasus dugaan keracunan yang terus berulang harus menjadi bahan evaluasi serius bagi pemerintah, terutama dalam pengawasan dapur, pengolahan makanan, dan distribusi kepada penerima manfaat.
Charles menegaskan, penutupan permanen perlu diterapkan terhadap dapur yang terbukti bertanggung jawab atas kejadian keracunan. Menurut dia, harus ada konsekuensi nyata apabila kelalaian dalam penyediaan makanan membahayakan kesehatan masyarakat, khususnya anak-anak.
Charles juga meminta pemerintah mengevaluasi pelaksanaan MBG secara menyeluruh, bukan hanya berfokus pada jumlah penerima manfaat. Ia kembali mendorong agar penyaluran program tersebut berbasis sekolah untuk memperkuat pengawasan terhadap makanan yang dikonsumsi anak-anak.
“Tujuan MBG adalah memperbaiki gizi anak-anak kita, bukan justru membuat mereka masuk rumah sakit,” tegasnya.
Sementara itu, Kepala Dinas Kesehatan Kota Cirebon Siti Maria menyampaikan, hingga Rabu (21/10) siang, jumlah orang yang terdampak dugaan keracunan mencapai 270 orang. Para korban terdiri atas 231 anak dan 39 orang dewasa.
Penanganan medis dilakukan di delapan rumah sakit di Kota Cirebon. Beberapa di antaranya adalah RS Siloam Putera Bahagia, RS Ciremai, dan Rumah Sakit Daerah (RSD) Gunung Jati.
Besarnya jumlah korban membuat pengawasan terhadap keamanan pangan dalam program MBG kembali menjadi sorotan. Pemerintah diharapkan memastikan penyebab kejadian di Cirebon terungkap, korban memperoleh penanganan yang memadai, dan langkah pencegahan diperkuat agar kejadian serupa tidak terulang.
Evaluasi tersebut penting agar program pemenuhan gizi bagi anak-anak tetap berjalan dengan mengutamakan keamanan, kualitas makanan, dan keselamatan penerima manfaat.****





