Fajarasia.id – Kabut asap akibat kebakaran hutan dan lahan (karhutla) di Kalimantan, Indonesia, memaksa otoritas Sarawak, Malaysia, menutup darurat 591 sekolah di 10 distrik selama dua hari. Keputusan ini berdampak pada 197 ribu siswa, dengan pembelajaran dialihkan ke metode berbasis rumah.
Departemen Pendidikan Sarawak menyebut penutupan dilakukan di wilayah Kuching, Padawan, Bau, Lundu, Samarahan, Simunjan, Serian, Sri Aman, Lubok Antu, dan Betong. “Langkah ini untuk melindungi keselamatan dan kesehatan siswa dari paparan udara tidak sehat,” demikian pernyataan resmi.
Data menunjukkan kualitas udara memburuk drastis. Serian mencatat Indeks Pencemar Udara (API) 239 pada Jumat pagi, masuk kategori sangat tidak sehat. Kondisi serupa juga terjadi di Kuching (190) dan Samarahan (173). Dewan Sumber Daya Alam dan Lingkungan (NREB) Sarawak memperingatkan kabut asap bisa berlanjut hingga akhir pekan.
Krisis udara ini dikaitkan langsung dengan kebakaran hutan di Kalimantan. Pusat Meteorologi Khusus ASEAN (ASMC) mencatat 7.286 titik panas di Kalimantan sepanjang 1–19 Agustus, jauh lebih tinggi dibanding Sarawak yang hanya 148 titik. Asap terpantau bergerak dari Kalimantan Barat menuju wilayah barat Sarawak.
Dampak kabut asap juga dirasakan di Singapura. Majelis Ugama Islam Singapura (MUIS) memutuskan memperpendek durasi khotbah Jumat, sejalan dengan peringatan Layanan Meteorologi Singapura bahwa kondisi kering masih berlanjut.
Di Indonesia, Menteri Kehutanan Raja Juli Antoni menegaskan tim ahli telah bersiaga penuh melakukan operasi penyemaian awan untuk memadamkan api dan mencegah meluasnya kebakaran.***





