Fajarasia.id – Dunia diguncang kabar penangkapan Presiden Venezuela, Nicolas Maduro, di New York pada Minggu (4/1/2026). Operasi besar-besaran itu disebut langsung diperintahkan Presiden Amerika Serikat (AS) Donald Trump. Maduro kini menunggu proses hukum atas dakwaan terkait kejahatan narkotika.
Tak berhenti di situ, Trump membuat pernyataan mengejutkan. Ia menegaskan AS akan mengambil alih kendali Venezuela, negara penghasil minyak terbesar di Amerika Latin, hingga transisi kekuasaan dianggap aman.
“Kami akan menjalankan negara itu sampai tiba waktunya dilakukan transisi yang aman, tepat, dan bijaksana,” kata Trump dalam konferensi pers di resor Mar-a-Lago, dikutip Reuters.
Langkah Trump langsung menuai reaksi keras dari sejumlah pemimpin dunia. Banyak pihak mengingatkan kembali pada sejarah kelam intervensi militer AS di Irak, Afghanistan, dan negara lain.
Di Caracas, sekutu Maduro mengecam penangkapan tersebut sebagai bentuk “penculikan”. Mereka menegaskan masih memegang kendali pemerintahan di Venezuela.
Trump juga menutup peluang bagi tokoh oposisi sekaligus peraih Nobel Perdamaian, Maria Corina Machado, untuk mengambil alih kekuasaan. Menurutnya, Machado tidak memiliki dukungan politik yang cukup. Padahal oposisi menilai Edmundo Gonzalez, sekutu Machado, seharusnya sah menjadi presiden setelah memenangkan pemilu 2024.
Sementara itu, diaspora Venezuela menyambut kepergian Maduro dengan euforia. Selama kepemimpinannya, perekonomian Venezuela merosot tajam hingga memicu eksodus besar-besaran. Diperkirakan satu dari lima warga meninggalkan tanah air akibat krisis berkepanjangan.
Maduro, mantan sopir bus dan pemimpin serikat buruh, naik ke kursi presiden pada 2013 sebagai penerus pilihan langsung mendiang Hugo Chavez. Kini, penangkapannya membuka babak baru penuh ketidakpastian bagi masa depan Venezuela.





