Fajarasia.id – Nilai tukar rupiah tampaknya tidak terpengaruh perombakan kabinet yang diumumkan pemerintah pada Senin (8/9/2025) sore. Menurut Bloomberg, rupiah ditutup menguat signifikan 0,75 persen atau 123 poin menjadi Rp16.309 per dolar Amerika Serikat (AS).
Presiden Prabowo Subianto mengganti sejumlah anggota Kabinet Merah Putih, salah satunya Sri Mulyani Indrawati. Posisinya sebagai Menteri Keuangan digantikan Purbaya Yudhi Sadewa, yang sebelumnya menjadi Kepala Dewan Komisioner Lembaga Penjamin Simpanan (LPS).
Analis pasar uang, Ibrahim Assuaibi, menyatakan bisa saja fenomena “ganti menteri ganti kebijakan” terjadi lagi. “Namun, harus diingat pemerintah sedang fokus pada pembangunan perumahan, Koperasi Merah Putih, dan Makan Bergizi Gratis (MBG),” ujarnya.
Menurut Ibrahim, program-program itu membutuhkan dana yang besar. Solusinya dengan kebijakan “berbagi beban” (burden sharing) antara Bank Indonesia (BI) dan pemerintah.
“Saya belum tahu apakah perombakan kabinet, terutama Menteri Keuangan, akan berdampak negatif,” ujarnya. Meski rupiah mungkin akan melemah, lanjut Ibrahim, tetapi tidak terlalu tajam karena perombakan kabinet adalah hak prerogatif Presiden.
Dia memperkirakan rupiah akan melemah pada pembukaan perdagangan Selasa (9/9/2025). Pergerakannya terhadap dolar AS diperkirakan antara Rp16.300-Rp16.350 per dolar AS.
Di sisi lain, Ibrahim menyebutkan faktor eksternal yang menopang penguatan rupiah pada Senin (8/9/2025). Di antaranya ekspektasi pemangkasan suku bunga The Fed yang makin menguat.
“Hal itu didorong data tenaga kerja AS yang melemah,” katanya. Di antaranya pertumbuhan lapangan kerja yang melambat signifikan dan tingkat pengangguran yang naik menjadi 4,3 persen.
Pelaku pasar selanjutnya akan mencermati data inflasi (Indeks Harga Konsumen) AS yang akan dirilis Kamis (11/9/2025). Jika penurunan inflasi berlanjut, ini akan memperkuat argumen bagi pemangkasan suku bunga pada pertemuan The Fed 16-17 September 2025.****





