Fajarasia.id – Kredibilitas Rupiah sebagai alat pembayaran, penyimpan nilai, dan satuan hitung disebut terus melemah akibat posisi nilai tukarnya yang rendah di kancah internasional. Kondisi ini turut memicu fenomena currency substitution atau peralihan penggunaan mata uang asing dalam transaksi di dalam negeri.
Dosen Fakultas Ekonomi dan Bisnis Universitas Hasanuddin sekaligus mantan Ketua KPPU periode 2015–2018, Muhammad Syarkawi Rauf, menilai dominasi mata uang global tidak banyak berubah dalam dua dekade terakhir. Dolar Amerika Serikat masih mendominasi dengan indeks penggunaan 59,71 persen pada 2025, disusul Euro 30,28 persen, Yen Jepang 6,88 persen, dan Poundsterling 6,86 persen.
Rupiah di Posisi Lemah
Syarkawi menyoroti Rupiah yang berada di jajaran mata uang terlemah dunia dengan nilai tukar sekitar Rp16.650 per dolar AS. Posisi ini bersanding dengan mata uang negara berkembang lain seperti Vietnam Dong, Kamboja Riel, hingga Shilling Somalia.
“Nilai Rupiah dalam dolar AS salah satu yang terendah di dunia. Lebih rendah dari Kamboja, tapi masih lebih baik dibanding Somalia,” ujarnya dalam keterangan resmi, Minggu (9/11/2025).
Ia menambahkan, lemahnya nilai tukar berdampak pada menurunnya kepercayaan masyarakat terhadap Rupiah, baik sebagai alat transaksi maupun penyimpan kekayaan. Sebagian warga bahkan lebih memilih menggunakan Dolar AS, Euro, atau Dolar Singapura.
Redenominasi Sebagai Solusi
Fenomena dolarisasi ini, menurut Syarkawi, memperburuk efektivitas kebijakan moneter. Bank Indonesia akan kesulitan mengendalikan jumlah uang beredar jika penggunaan mata uang asing semakin meluas.
Sebagai solusi, ia menilai redenominasi Rupiah dapat menjadi strategi intervensi moneter yang tepat. Ia mencontohkan Turkiye yang pada 2005 memangkas enam digit angka dalam Lira.
Jika diterapkan di Indonesia, tiga digit nol Rupiah bisa dihapus. Misalnya, Rp1.000 menjadi Rp1, tanpa mengubah daya beli. Nilai tukar pun hanya menyesuaikan skala nominal, sehingga Rp16.650 per dolar AS akan menjadi 16,650 Rupiah baru per dolar AS.
Dampak Psikologis Positif
Menurut Syarkawi, kebijakan ini akan mengurangi money illusion, membuat uang lebih praktis dibawa, serta memberikan sinyal kuat terhadap stabilitas moneter. “Redenominasi akan memberikan dampak psikologis positif terhadap penggunaan Rupiah dan menekan kecenderungan dolarisasi di masyarakat,” tegasnya.
Ia menekankan bahwa redenominasi bukan sekadar penyederhanaan angka, melainkan juga bentuk penegasan kedaulatan moneter dan identitas nasional.****





