Fajarasia.id – Presiden RI Prabowo Subianto meresmikan pembangunan 13 proyek hilirisasi tahap kedua dengan total investasi mencapai Rp116 triliun. Proyek-proyek tersebut mencakup sektor energi, mineral, dan pertanian yang tersebar di berbagai wilayah Indonesia.
Dalam peresmian di Cilacap, Jawa Tengah, Kamis (30/4/2026), Prabowo menegaskan hilirisasi sumber daya alam adalah jalan utama menuju kemakmuran bangsa. “Hilirisasi adalah jalan satu-satunya untuk kita bisa lebih makmur,” ujarnya.
Dari 13 proyek yang diluncurkan, lima di antaranya berada di sektor energi, termasuk pengembangan kilang gasoline di Dumai dan Cilacap serta fasilitas pengolahan batu bara menjadi Dimethyl Ether (DME) di Tanjung Enim. Proyek DME ini diharapkan mampu menggantikan ketergantungan impor LPG yang selama ini mencapai 80% kebutuhan nasional.
Di sektor mineral, terdapat pengembangan fasilitas baja nirkarat di Morowali, produksi slab baja karbon di Cilegon, serta hilirisasi tembaga dan emas di Gresik. Sementara di sektor pertanian, proyek meliputi pengolahan sawit menjadi biodiesel dan oleofood di Sei Mangkei, pengolahan pala menjadi oleoresin di Maluku Tengah, serta fasilitas terpadu kelapa yang menghasilkan produk bernilai ekspor tinggi.
Prabowo menekankan bahwa hilirisasi akan terus diperluas dengan tambahan proyek di tahap berikutnya. Pemerintah menargetkan pembangunan ini tidak hanya memperkuat ketahanan energi dan industri nasional, tetapi juga membuka lapangan kerja baru serta meningkatkan kesejahteraan masyarakat.
Berikut Daftar 13 Proyek Hilirisasi Fase 2 beserta pemilik proyeknya:
Proyek 1-2:
Pembangunan Fasilitas Kilang Gasoline
BUMN Holding: PT Pertamina (Persero)
Lokasi: Dumai (Riau), Cilacap (Jawa Tengah)
• Pengembangan kapasitas kilang gasoline pada fasilitas eksisting RU II Dumai dan RU IV Cilacap dengan total kapasitas 62 MBSD yang ditargetkan onstream pada Q4 2030.
• Proyek ini mensubstitusi impor gasoline hingga 2 juta KL per tahun atau 9,47% gap supply-demand nasional, mendukung pemenuhan Pertamax Series dari produksi domestik, serta menurunkan impor produk sampingan termasuk propylene dan LPG.
• Proyek ini berkontribusi pada penguatan ketahanan energi nasional sekaligus menjaga stabilitas harga energi, yang pada akhirnya mendukung daya beli dan aktivitas ekonomi masyarakat.
Proyek 3-4-5:
Pembangunan Tangki Operasional BBM
BUMN Holding: PT Pertamina (Persero)
Lokasi: Palaran (Kalimantan Timur), Biak (Papua), Maumere (Nusa Tenggara Timur)
• Pengembangan tiga Terminal BBM di Palaran (37 ribu KL), Biak (46 ribu KL), dan Maumere (70 ribu KL) dengan total tambahan kapasitas 153 ribu KL, meningkatkan kapasitas penyimpanan nasional sebesar 3,1%.
• Dijalankan oleh Pertamina Patra Niaga dan ditargetkan onstream bertahap pada 2027 (Maumere) dan 2028 (Palaran, Biak).
• Proyek ini memperkuat keandalan distribusi energi, khususnya di wilayah Indonesia Timur, sehingga mendorong pemerataan pembangunan dan memperkecil kesenjangan harga antarwilayah.
Proyek 6
Fasilitas Pengolahan Batu Bara menjadi DME
BUMN Holding: PT Pertamina (Persero), PT Mineral Industri Indonesia (Persero)
Lokasi: Tanjung Enim (Sumatera Selatan)
• Pengembangan fasilitas produksi DME berkapasitas 1,4 juta ton per tahun di Tanjung Enim, dengan PTBA sebagai operator dan Pertamina Patra Niaga sebagai o_taker.
• Proyek ini mensubstitusi impor LPG yang saat ini memenuhi 80% kebutuhan nasional.
• Selain memberikan efisiensi devisa, proyek ini memperkuat ketahanan energi domestik serta menciptakan peluang kerja baru dalam pengembangan industri hilir berbasis energi.
Proyek 7:
Pengembangan Fasilitas Manufaktur Baja Nirkarat dari Nikel
BUMN Holding/Mitra: PT Krakatau Steel (Persero) Tbk. / Tsingshan Group
Lokasi: Indonesia Morowali Industrial Park (Sulawesi Tengah)
• Pengembangan fasilitas produksi stainless steel slab berkapasitas 1,2 juta ton per tahun berbasis nikel lokal melalui proses peleburan dan pemurnian modern.
• Inisiatif ini meningkatkan nilai tambah mineral dalam negeri sekaligus mendorong penciptaan lapangan kerja industri serta pertumbuhan ekonomi kawasan industri secara berkelanjutan.
Proyek 8
Pengembangan Fasilitas Produksi Slab Baja Karbon dari Bijih Besi Lokal
BUMN Holding/Mitra: PT Krakatau Steel (Persero) Tbk. / Xin Hai Group
Lokasi: Cilegon (Banten)
• Pengembangan fasilitas produksi steel slab berkapasitas 1,5 juta ton per tahun melalui peningkatan proses produksi dan modernisasi fasilitas existing untuk mencapai efisiensi operasional.
Sebagai bagian dari industri dasar, proyek ini memperkuat fondasi industrialisasi nasional serta mendukung efisiensi pembangunan infrastruktur dan peningkatan daya saing industri domestik.
Proyek 9
Ekosistem dan Fasilitas Produksi Aspal Buton
BUMN Holding: PT Wijaya Karya (Persero) Tbk., PT Jasa Marga (Persero) Tbk.
Lokasi: Karawang (Jawa Barat)
• Pengembangan Aspal Buton diarahkan untuk meningkatkanpemanfaatan dari 5 ribu
ton pada 2025 menjadi 300 ribu ton pada 2030.
• Proyek ini mendorong optimalisasi sumber daya lokal sekaligus meningkatkan aktivitas ekonomi daerah penghasil serta membuka peluang kerja di sektor konstruksi dan material.
Proyek 10
Hilirisasi Tembaga dan Emas
BUMN Holding: PT Mineral Industri Indonesia (Persero), PT Len Industri (Persero)
Lokasi: Gresik (Jawa Timur)
• Pengembangan fasilitas Brass Mill, Brass Cup, serta manufaktur logam mulia berbasis anode slime.
• Proyek ini memperkuat industri strategis nasional serta membuka peluang kerja bernilai tambah tinggi di sektor manufaktur logam.
Proyek 11
Pengolahan Sawit menjadi Oleofood dan Biodiesel
BUMN Holding: PT Perkebunan Nusantara III (Persero)
Lokasi: Sei Mangkei (Sumatera Utara)
• Pengembangan klaster hilirisasi sawit melalui fasilitas oleofood dan biodiesel.
• Proyek ini meningkatkan nilai tambah komoditas sawit sekaligus mendukung peningkatan kesejahteraan petani serta penguatan ketahanan energi nasional.
Proyek 12
Fasilitas Pengolahan Pala menjadi Oleoresin
BUMN Holding: PT Perkebunan Nusantara III (Persero)
Lokasi: Maluku Tengah (Maluku)
• Pengembangan fasilitas pengolahan pala menjadi oleoresin.
• Proyek ini memperkuat ekonomi daerah berbasis komoditas unggulan serta
meningkatkan pendapatan petani melalui produk bernilai tambah lebih tinggi.
Proyek 13
Fasilitas Terpadu Kelapa
BUMN Holding: PT Perkebunan Nusantara III (Persero)
Lokasi: Maluku Tengah (Maluku)
• Pengembangan fasilitas pengolahan kelapa terintegrasi menghasilkan MCT, coconut
flour, dan activated carbon.
• Proyek ini mendorong diversifikasi produk berbasis kelapa sekaligus meningkatkan
pendapatan petani dan memperluas akses ke pasar ekspor bernilai tinggi.****





