Fajarasia.id – Pemerintah diminta mengantisipasi jalur-jalur rawan kecelakaan dan bencana pada mudik Natal 2024 dan Tahun Baru (Nataru) 2025. Utamanya, jalur ke destinasi wisata.
“Kalau berdasarkan hasil survei Badan Kebijakan Transportasi Perhubungan sebagian besar pergerakan itu ke arah tempat-tempat wisata. Karena itulah sebetulnya yang harus diantisipasi oleh pemerintah itu di destinasi wisata,” kata Pemerhati Transportasi Darmaningtyas, Kamis (12/12/2024).
Selain itu, kata dia, pemerintah juga diminta mengantisipasi gelombang tinggi di sejumlah lokasi penyeberangan antar-pulau. Seperti, di Pelabuhan Merak.
“Kalau kita belajar dari kasus Pelabuhan Merak pada bulan ini sudah dua kali pergerakan. Bahkan, mengalami gangguan karena gelombang tinggi,” katanya, yang juga merupakan Ketua Institut Studi Transportasi (INSTRAN)
Bahkan, lanjut dia, pemerintah daerah harus peka memberi informasi kepada pengguna jalan. Namun, ia menyayangkan banyak pemerintah daerah kurang peduli terhadap hal itu.
Padahal, pemda berharap mendapat Pendapatan Asli Daerah dari sektor pariwisata. “Jika ingin PAD tinggi, maka pemda harus bekerja keras meningkatkan pelayanan,” ujarnya.
Ia juga menyoroti infrastruktur transportasi di daerah-daerah kepulauan seperti Nusa Tenggara Timur (NTT), Maluku, dan Papua. Berbeda dengan Jawa yang infrastrukturnya relatif memadai, kawasan Indonesia Timur masih menggunakan kapal-kapal kecil yang kurang aspek keselamatan.
“Daerah-daerah itu membutuhkan perhatian lebih dari pemerintah. Terutama, untuk angkutan laut dengan kapal kecil,” katanya.
Di sisi lain, ia mengapresiasi mudik gratis yang dilakukan Kementerian Perhubungan (Kemenhub). Menurutnya, terdapat perbedaan mudik gratis saat Nataru dan Lebaran.
“Kalau pada saat lebaran itu memang ada kaitannya dengan aspek kultural ya. Jadi, masyarakat di perkotaan itu pengen buru-buru sampai ke asal kampung halaman supaya bisa mengikuti salat Idul Fitri bersama keluarga,” ujarnya.****




