Kabag Pemberitaan MPR RI Budi Muliawan: Generasi Muda Harus Adaptif

Kabag Pemberitaan MPR RI Budi Muliawan: Generasi Muda Harus Adaptif

Fajarasia.co – Kepala Bagian (Kabag) Pemberitaan dan Hubungan Antarlembaga Sekretariat Jenderal Majelis Permusyawaratan Rakyat Republik Indonesia (MPR RI) Budi Muliawan menegaskan, generasi muda harus adaptif dengan perkembangan globalisasi dan teknologi.

Misalnya, katanya, di bidang pendidikan. Akibat pandemi Covid-19, pola pendidikan berubah dengan sistem daring. Guru dan juga siswa dituntut untuk melek teknologi informasi, sebab sekolah tatap muka sempat dihentikan, diganti dengan sistem daring.

”Pola ini membuat guru harus bisa menggunakan teknologi informasi, salah satunya Zoom,” katanya, saat menjadi pembicara dalam dialog bertajuk ‘Peran Mahasiswa dalam Memajukan Bangsa’ dan sarasehan bertajuk Menyapa Sahabat Kebangsaan’ di Gedung Prof. Ir. Retno Sriningsih, Kampus Universitas Negeri Semarang (Unnes), Semarang, Jawa Tengah, ditulis Kamis (2/6/2022).

Menurut pria yang akrab disapa Wawan ini, disrupsi tidak hanya terjadi dalam pola pendidikan dan pengajaran. Dalam kehidupan masyarakat pun ada perubahan gaya hidup dan etika dalam pergaulan. Hadirnya teknologi informasi diakui memudahkan orang dalam berkomunikasi.

”Waktu dan jarak sekarang bukan hambatan lagi berkat kemajuan teknologi informasi. Dulu untuk mengirim uang kiriman dari orangtua memerlukan waktu hingga tiga hari lewat Kantor Pos. Saat ini cukup satu menit dengan menggunakan transfer antarbank,” ungkap alumni Fakultas Hukum Universitas Brawijaya Malang itu.

Di sisi lain, tambahnya, globalisasi dan kemajuan teknologi membawa dampak yang sangat mengkhawatirkan. Misalnya, membuat orang lebih suka menyendiri dengan perangkat komunikasinya, daripada bersosialisasi dengan orang lain secara langsung. Namun demikian, ditegaskannya, perubahan ini tidak perlu dihindari, dan tidak pula larut ke dalamnya.

”Nah agar bisa bertahan maka kita harus mampu beradaptasi. Kalau dalam Ilmu Biologi, makhluk hidup yang bisa beradaptasi dengan lingkungan, dialah yang akan mampu bertahan hidup. Begitu juga sebaliknya,” tuturnya.

Ditekankannya, dalam menghadapi tantangan zaman, selain harus menguasai ilmu dan teknologi, penting juga memegang nilai-nilai etika dan norma yang ada.

“Kita harus tetap memegang nilai dan norma yang ada dalam Pancasila. Nilai-nilai ini harus dijaga dalam menjalankan kehidupan sehari-hari, karena akan membawa kita dalam suasana yang saling menghormati dan menghargai di tengah kemajuan zaman,” paparnya.

Menurutnya, bangsa ini harus memegang erat nilai-nilai luhur bangsa yang bersumber dari Pancasila, UUD NRI Tahun 1945, NKRI, dan Bhinneka Tunggal Ika. Keempat nilai luhur bangsa itu merupakan pedoman hidup bermasyarakat, berbangsa, dan bernegara.

“Berkat Pancasila, bangsa Indonesia tetap utuh bersatu, tak terpecah belah,” imbuhnya.

Lebih lanjut, ia mengaku bangga dapat hadir di tengah generasi muda, para calon guru yang mengikuti acara tersebut. Katanya, pendidikan merupakan dasar dan kunci kemajuan bangsa. Untuk itu, guru memiliki peran yang sangat mulia.

Tugas guru tidak hanya menjadikan anak pintar, tetapi juga membuat anak paham pada kehidupan. Dalam diskusi tersebut, Budi Muliawan juga menyampaikan peran strategis dan pentingnya generasi muda, mahasiswa.

Berbagai peristiwa penting seperti tonggak kebangkitan nasional tahun 1908, Sumpah Pemuda 1928, Proklamasi 1945, dan perubahan tatanan politik yang terjadi pada tahun 1966 dan 1998, tak lepas dari peran besar mahasiswa.

Dari catatan perjalanan sejarah bangsa itulah, Budi Muliawan menyebut bangsa ini selalu menunggu peran dan kiprah generasi muda.

“Kepada pemuda dan mahasiswa-lah, estafet kepemimpinan bangsa akan diserahkan,” tuturnya.

Dalam menghadapi perubahan zaman, diharapkannya generasi muda meningkatkan kemampuan, adaptif dengan alih teknologi, serta tidak berhenti dalam berinovasi.

“Juga tetap berpegang teguh pada nilai-nilai luhur kehidupan berbangsa dan bernegara. Hanya dengan cara itulah, generasi muda, mahasiswa, bisa terus berkontribusi dalam membangun bangsa dan negara,” tambahnya.

Sarasehan hasil kerja sama Biro Humas Setjen MPR dan Unnes itu dihadiri Pelaksana Tugas Deputi Administrasi Setjen MPR Siti Fauziah, Kepala Biro Akademik, Kemahasiswaan, dan Kerjasama Unnes Mulyo Widodo dan Kepala UPT Pusat Humas Unnes Muhammad Burhanudin, serta diikuti ratusan mahasiswa Unnes dari berbagai jurusan.

Pembicara lainnya, Muhammad Burhanudin mengatakan, agar terus bisa berkontribusi dalam pembangunan, mahasiswa harus mampu meningkatkan kreativitas dan inovatif.

“Dua hal tersebut, dapat memberikan peluang yang lebih besar, dibanding mereka yang hanya berdiam dan pasrah terhadap apa yang ada di hadapannya,” tandas Muhammad. *****

Pos terkait