Integrasi Sawit-Sapi, Wamenko Pangan Yakin Kurangi Impor Daging

Integrasi Sawit-Sapi, Wamenko Pangan Yakin Kurangi Impor Daging

Fajarasia.id – Wakil Menteri Koordinator Bidang Pangan Hanif Faisol Nurofiq menilai integrasi perkebunan kelapa sawit dengan peternakan sapi dapat menjadi solusi memperkuat pasokan daging nasional sekaligus mengurangi ketergantungan pada impor.

Menurut Hanif, kawasan sawit memiliki karakteristik yang mendukung pengembangbiakan sapi secara alami. Model ini dinilai lebih efektif dibanding inseminasi buatan karena proses reproduksi berlangsung natural dengan biaya pemeliharaan lebih rendah.

Keberhasilan konsep ini sudah terlihat di PT Buana Karya Bhakti, di mana populasi sapi meningkat dari 300 ekor menjadi hampir 1.500 ekor di lahan 16 ribu hektare. Dengan rasio satu ekor sapi per 13 hektare, potensi pengembangan Program SISKA di Kalimantan Selatan dinilai sangat besar.

Hanif menegaskan, jika 250 ribu hektare lahan sawit di provinsi tersebut diintegrasikan, maka bisa menampung sekitar 20 ribu ekor sapi. Jumlah ini dapat membantu memenuhi kekurangan kebutuhan sapi potong yang mencapai lebih dari 20 ribu ekor per tahun.

Konsep integrasi sawit-sapi juga sejalan dengan Instruksi Presiden Nomor 14 Tahun 2025 tentang Kawasan Swasembada Pangan, Energi, dan Air. Dengan total 17 juta hektare lahan sawit nasional, potensi menampung hingga 1,3 juta ekor sapi dinilai mampu memenuhi kebutuhan daging nasional sekitar 800 ribu ton per tahun.

Selain memperkuat pasokan daging, keberadaan sapi di perkebunan juga memberi manfaat ekonomi bagi perusahaan sawit, mulai dari menekan biaya pembersihan gulma hingga meningkatkan kesuburan tanah. Pemerintah akan membahas pengembangan SISKA bersama kementerian terkait untuk menyiapkan regulasi dan iklim usaha yang mendukung.

“Integrasi sawit dan sapi ini menjadi salah satu keunggulan kompetitif Indonesia untuk menjawab kebutuhan daging nasional,” pungkas Hanif.****

Pos terkait