Fajarasia.id – Ekonom Indef Abra Talattov menilai penilaian MSCI terhadap pasar modal Indonesia sebaiknya dipandang sebagai masukan untuk melanjutkan agenda reformasi, bukan sebagai tanda menurunnya daya tarik pasar secara fundamental.
“Agenda perbaikannya sudah ada, prosesnya sedang berlangsung, dan keputusan MSCI kali ini dapat menjadi momentum untuk mempercepat penyempurnaan,” ujar Abra, Sabtu (20/6).
Menurutnya, aspek yang disoroti MSCI bukan hal baru. Langkah perbaikan terkait keterbukaan informasi, tata kelola, perlindungan investor, dan penguatan infrastruktur pasar telah berjalan beberapa tahun terakhir. Penilaian ini justru sesuai dengan ekspektasi investor di tengah kekhawatiran perubahan status pasar Indonesia.
Abra menekankan indikator ekonomi domestik masih menunjukkan ketahanan: pertumbuhan ekonomi triwulan I 2026 sebesar 5,61 persen, inflasi Mei 3,08 persen, rasio kecukupan modal perbankan di atas 25 persen, serta cadangan devisa mencapai 144,9 miliar dolar AS. “Stabilitas ekonomi dan sektor keuangan nasional masih terjaga di tengah ketidakpastian global,” katanya.
Ia menambahkan, penilaian MSCI memberi gambaran jelas area yang perlu diperkuat, sementara fondasi pasar modal Indonesia tetap baik. “Indonesia tidak menghadapi persoalan mendasar, melainkan tantangan untuk terus meningkatkan kualitas pasar,” ujarnya.
MSCI dalam Global Market Accessibility Review 2026 menyesuaikan indikator arus informasi dan liberalisasi pasar valuta asing dari “+” menjadi “-”. Abra menilai hal ini sebagai dorongan untuk memperkuat transparansi dan tata kelola agar kepercayaan investor terus tumbuh.***





