Fajarasia.id – Konflik antara Amerika Serikat dan Iran yang memasuki bulan ketiga kini dipandang sebagai “laboratorium” militer oleh China. Dari serangan drone murah Iran yang mampu menembus pertahanan udara AS hingga penggunaan senjata presisi Washington, perang ini memberi Beijing gambaran nyata tentang dinamika peperangan modern.
Analis menilai pertempuran di Teluk Persia dapat menjadi petunjuk penting bagi kemungkinan konflik masa depan antara China dan AS, khususnya terkait Taiwan. Namun, mereka mengingatkan Beijing berisiko salah membaca kekuatannya sendiri jika hanya fokus pada keberhasilan teknologi tanpa memahami kompleksitas perang berkepanjangan.
Fu Qianshao, mantan kolonel Angkatan Udara China, menekankan pentingnya memperkuat pertahanan dalam negeri. “Kita perlu mencurahkan upaya signifikan untuk mengidentifikasi kelemahan di sisi pertahanan kita,” ujarnya.
China saat ini mempercepat produksi jet tempur siluman J-20, rudal hipersonik, dan pembom jarak jauh. Namun, kemampuan pertahanan masih dipertanyakan, terutama menghadapi serangan asimetris seperti drone murah Iran.
Isu Taiwan menjadi sorotan utama. Analis Taiwan menilai China kini memiliki kombinasi kemampuan perang presisi ala AS dan perang drone massal seperti Iran. Laporan menyebut produsen sipil China bahkan mampu memproduksi hingga satu miliar drone bersenjata per tahun jika diperlukan.
Sementara itu, AS juga belajar dari perang Iran. Komandan Indo-Pacific Command, Laksamana Samuel Paparo, menegaskan drone dapat menjadi penangkal efektif dalam konflik Pasifik, termasuk di Selat Taiwan.
Meski begitu, para pengamat menekankan kemenangan taktis tidak selalu menghasilkan kemenangan politik. “Keberhasilan di medan perang tidak otomatis menghasilkan keadaan akhir yang diinginkan,” kata Craig Singleton dari Foundation for Defense of Democracies.****





