Fajarasia.id – Jalanan ibu kota Venezuela berubah menjadi lautan manusia pada Sabtu (11/1/2026), ketika ribuan warga turun ke jalan menuntut Amerika Serikat segera membebaskan Presiden Nicolas Maduro. Aksi massa ini terjadi di tengah meningkatnya ketegangan politik dan keamanan pasca operasi militer AS yang menculik Maduro dan istrinya pada 3 Januari lalu.
Demonstrasi besar-besaran itu menjadi simbol perlawanan rakyat Venezuela terhadap intervensi asing. Massa memenuhi pusat kota Caracas dengan teriakan dan spanduk yang menuntut kedaulatan negara dihormati.
Di sisi lain, Biro Urusan Konsuler Departemen Luar Negeri AS mengeluarkan peringatan keras kepada warganya di Venezuela. Melalui unggahan di platform X, AS meminta seluruh warga negara Amerika segera meninggalkan Venezuela seiring dimulainya kembali penerbangan internasional.
Peringatan itu menyebut situasi keamanan di Venezuela “masih tidak stabil”, dengan laporan adanya kelompok milisi bersenjata yang dikenal sebagai colectivos mendirikan blokade jalan dan memeriksa kendaraan untuk mencari warga yang diduga berkewarganegaraan AS atau pro-AS.
“Venezuela memiliki level peringatan perjalanan tertinggi – Level 4: Jangan Bepergian – karena adanya risiko serius bagi warga AS, termasuk penahanan ilegal, terorisme, penculikan, kerusuhan sipil, hingga infrastruktur kesehatan yang buruk,” tulis pernyataan resmi tersebut.
Operasi militer AS terhadap Venezuela menuai kecaman luas dari komunitas internasional. Banyak pihak menilai tindakan penculikan terhadap kepala negara merupakan pelanggaran serius terhadap hukum internasional dan berpotensi memicu krisis regional.
Sementara itu, pemerintah Venezuela menegaskan bahwa rakyat tidak akan tinggal diam. Demonstrasi yang terus membesar dianggap sebagai bukti dukungan publik terhadap Maduro dan penolakan terhadap campur tangan asing.
Caracas kini menjadi pusat perhatian dunia. Ribuan warga yang memenuhi jalanan menunjukkan bahwa krisis Venezuela bukan hanya soal politik, tetapi juga tentang harga diri bangsa. Dengan eskalasi yang terus meningkat, sorotan global tertuju pada bagaimana konflik ini akan memengaruhi stabilitas kawasan Amerika Latin.




