Fajarasia.id – Anggota Komisi X DPR RI Bonnie Triyana melontarkan kritik tajam terhadap layanan digital Perpustakaan Nasional (Perpusnas), khususnya aplikasi iPusnas. Ia menilai aplikasi yang seharusnya menjadi pintu akses literasi justru sering bermasalah dan mengganggu masyarakat.
“Sebagai pengguna iPusnas, saya alami langsung gangguan. Aplikasi sering macet, tiba-tiba ter-log out saat unduh buku, bahkan sampai sekarang belum bisa dibuka meski disebut hanya maintenance sampai 8 Januari,” kata Bonnie dalam Rapat Dengar Pendapat (RDP) Komisi X DPR bersama Kepala Perpusnas di Senayan, Rabu (14/1/2025).
Bonnie menegaskan efisiensi anggaran tidak boleh mengorbankan layanan publik paling mendasar, yakni akses masyarakat terhadap buku. “Kalau memang ada keterbatasan anggaran, harus dicari solusi inovatif. Jangan sampai literasi dasar terganggu,” tegas politisi PDI Perjuangan itu.
Selain layanan digital, Bonnie juga menyoroti kondisi perpustakaan daerah. Ia menyebut Indonesia memiliki lebih dari 21 ribu perpustakaan desa dan kelurahan, namun masih ada 19 kabupaten/kota yang belum punya perpustakaan sama sekali. Dari 38 provinsi, baru 33 yang memiliki perpustakaan provinsi.
“Di Pandeglang, ruang penyimpanan buku lembab, tanpa pendingin, dan tidak memenuhi syarat perawatan koleksi. Kondisi ini memprihatinkan,” ujarnya.
Bonnie juga mengingatkan pentingnya perhatian terhadap perpustakaan tokoh bangsa, seperti Bung Karno dan Bung Hatta, serta naskah kuno yang dipulangkan dari luar negeri. “Jangan sampai manuskrip berharga itu kembali ke tanah air tapi tidak mampu dirawat. Padahal ini penting untuk dekolonisasi pengetahuan,” katanya.
Di akhir pernyataannya, Bonnie berharap anggaran Perpusnas diperkuat agar pelayanan literasi, pelestarian arsip sejarah, dan pengembangan pengetahuan publik bisa berjalan optimal. “Sebagai pengguna, saya komplain langsung di sini. Tolong ini jadi perhatian bersama,” pungkasnya.






