Fajarasia.id – Bank Dunia memperingatkan aktivitas perdagangan dunia bakal semakin lesu pada 2026. Dalam laporan Global Economic Prospect (GEP) edisi Januari 2026, lembaga itu menilai kebijakan tarif resiprokal tinggi yang diterapkan pemerintahan Amerika Serikat (AS) menjadi salah satu pemicu utama.
Pertumbuhan perdagangan barang dan jasa diperkirakan turun dari 3,4% pada 2025 menjadi hanya 2,2% di 2026. Penurunan ini terjadi setelah berakhirnya dorongan sementara dari praktik front-loading, yakni penimbunan persediaan oleh importir AS sebelum tarif baru diberlakukan.
“Berakhirnya dorongan sementara tersebut, bersama dengan dampak tarif yang tertunda, telah menyebabkan revisi penurunan terhadap proyeksi pertumbuhan perdagangan pada 2026,” tulis Bank Dunia dalam laporannya, Kamis (15/1).
Prospek ke Depan
Meski melemah tahun ini, Bank Dunia memprediksi perdagangan global akan kembali menguat ke 2,7% pada 2027. Hal itu seiring berkurangnya dampak tarif dan meredanya ketidakpastian kebijakan. Negara dengan ekspor lebih terdiversifikasi diperkirakan mampu mencatat pertumbuhan lebih baik.
Namun, risiko penurunan tetap besar. Ketegangan geopolitik, sanksi sekunder, hingga potensi meningkatnya tarif baru bisa kembali menekan perdagangan. “Tarif yang lebih tinggi berpotensi mengalihkan ekspor ke negara ketiga, sehingga produsen domestik akan mencari perlindungan dari persaingan impor,” tegas Bank Dunia.
Dampak ke Ekonomi Global
Dengan melemahnya perdagangan, Bank Dunia memperkirakan pertumbuhan ekonomi dunia hanya mencapai 2,6% pada 2026. Angka ini menjadi yang terendah dalam tiga tahun terakhir, setelah 2,8% pada 2023-2024 dan 2,7% pada 2025.
Indermit Gill, Kepala Ekonom dan Wakil Presiden Senior World Bank Group, menyebut dekade 2020-an berpotensi menjadi periode dengan pertumbuhan global terlemah sejak 1960-an. “Ekonomi dunia diperkirakan tumbuh lebih lambat, sementara menanggung tingkat utang publik dan swasta yang mencapai rekor,” ujarnya.
Latar Belakang
Pada 2025, perdagangan sempat melonjak karena penyesuaian rantai pasok dan penimbunan stok menjelang penerapan tarif resiprokal AS. Namun, dorongan itu diperkirakan memudar tahun ini. Meski begitu, pelonggaran kondisi keuangan global dan ekspansi fiskal di sejumlah negara besar bisa sedikit meredam perlambatan.






