Fajarasia.id — Lonjakan harga energi akibat eskalasi perang Amerika Serikat di Iran memukul keras perekonomian Eropa. Tekanan inflasi kawasan euro resmi menyentuh level tertinggi dalam tiga tahun terakhir, sekaligus memperbesar probabilitas Bank Sentral Eropa (ECB) untuk memacu kembali rem moneter lewat kenaikan suku bunga acuan pada Desember mendatang.
Data terbaru Eurostat per Rabu (4/11/2026) mencatat inflasi di 21 negara pengguna mata uang euro melonjak menjadi 4,0 persen secara tahunan pada Oktober 2026, naik dari 3,8 persen pada September. Sementara itu, inflasi inti—yang mengecualikan komponen bergejolak seperti pangan dan energi—bertahan stabil di level 2,5 persen.
Penyebaran tekanan harga tak lagi terbatas pada sektor energi. Inflasi sektor jasa merangkak naik ke level 3,3 persen, barang industri 1,2 persen, dan lonjakan tertinggi dicatat sektor pangan tak diolah yang melejit hingga 4,6 persen. Rentetan kenaikan ini makin menjauhkan laju harga dari target ideal ECB di kisaran 2 persen.
Respons ketat mulai disiapkan Frankfurt. Menyusul dua kali kenaikan suku bunga sepanjang 2026 yang menempatkan suku bunga deposito di level 2,5 persen, sinyal pengetatan tambahan terus menguat dari para petinggi bank sentral Jerman dan Italia. Pelaku pasar bahkan memproyeksikan ECB bakal mengerek suku bunga hingga dua sampai tiga kali dalam kurun setahun ke depan.
Risiko kian mengintai memasuki musim dingin. Cadangan gas alam yang terbatas berpotensi meledakkan biaya pemanas ruang, dengan transmisi biaya produksi dan distribusi yang diprediksi mencapai puncaknya pada penyesuaian harga massal Januari mendatang. ECB memperkirakan laju inflasi Eropa akan tertahan di atas 4 persen sepanjang paruh pertama 2027 sebelum melandai secara perlahan.****





