Fajarasia.id – Perusahaan layanan streaming Netflix dikabarkan berencana memangkas sekitar 5 persen dari total tenaga kerjanya pada pekan depan. Jika rencana tersebut terealisasi, sekitar 800 karyawan berpotensi kehilangan pekerjaan.
Mengutip Reuters, Senin (12/10/2026), Netflix tercatat memiliki sekitar 16.000 karyawan pada akhir 2025. Dengan asumsi jumlah pekerja tersebut menjadi dasar perhitungan, pemangkasan 5 persen setara dengan sekitar 800 orang.
Hingga laporan tersebut dipublikasikan, Netflix belum memberikan komentar mengenai kabar rencana pemutusan hubungan kerja (PHK) tersebut.
Rencana ini muncul ketika persaingan industri layanan streaming semakin ketat. Perusahaan media menghadapi perubahan perilaku penonton, sementara platform digital seperti YouTube terus merebut perhatian audiens dan porsi belanja iklan.
Kondisi tersebut mendorong perusahaan hiburan untuk mencari strategi baru agar tetap kompetitif sekaligus mempertahankan pertumbuhan bisnis.
Dalam menghadapi persaingan, Netflix mulai memperluas bisnisnya di luar layanan berlangganan yang selama ini menjadi sumber pendapatan utama.
Perusahaan tersebut berinvestasi dalam bisnis periklanan, program siaran langsung, hingga permainan digital. Diversifikasi ini menjadi salah satu upaya untuk menjangkau lebih banyak pengguna dan membuka sumber pendapatan baru.
Namun, ekspansi ke berbagai sektor berlangsung di tengah persaingan yang semakin ketat dalam memperebutkan perhatian penonton. Netflix harus mempertahankan daya tarik kontennya sekaligus menyesuaikan strategi bisnis dengan perubahan pasar.
Kabar rencana PHK ini juga mengingatkan pada gelombang pemangkasan tenaga kerja yang dilakukan Netflix pada 2022. Saat itu, perusahaan memberhentikan ratusan pekerja di tengah penurunan jumlah pelanggan.
Meski demikian, alasan resmi di balik rencana PHK terbaru tersebut belum dikonfirmasi oleh perusahaan.
Jika benar dilaksanakan, pemangkasan ini akan menjadi bagian dari dinamika industri hiburan digital yang terus berubah. Di tengah persaingan layanan streaming, perusahaan dituntut menyeimbangkan efisiensi operasional, inovasi, dan kebutuhan untuk mempertahankan pertumbuhan bisnis.*****





