HP Lipat Makin Dilirik, Smartphone Biasa Terancam Ditinggalkan?

HP Lipat Makin Dilirik, Smartphone Biasa Terancam Ditinggalkan?

Fajarasia.id  – Industri smartphone global diperkirakan memasuki babak baru pada 2026. Di tengah kenaikan biaya produksi dan melemahnya permintaan, ponsel layar lipat diprediksi semakin diminati, sementara pertumbuhan penjualan smartphone konvensional menghadapi tekanan.

Berdasarkan proyeksi International Data Corporation (IDC), pengiriman smartphone lipat diperkirakan tumbuh 29,7 persen sepanjang 2026. Sebaliknya, pengiriman ponsel dengan layar konvensional diproyeksikan turun 1,4 persen.

Perubahan ini menunjukkan bahwa inovasi desain berpotensi menjadi salah satu faktor penting dalam persaingan industri ponsel. Konsumen diperkirakan semakin mempertimbangkan manfaat nyata sebuah perangkat sebelum memutuskan mengganti ponsel lama mereka.

Dikutip dari laman resmi IDC, Senin (12/10/2026), pertumbuhan pasar ponsel lipat diperkirakan mendapat dorongan dari kehadiran perangkat baru, termasuk Samsung Galaxy Z TriFold dan potensi masuknya Apple ke segmen ponsel lipat.

Direktur Riset Senior IDC, Nabila Popal, memperkirakan kategori ponsel lipat akan mengalami pertumbuhan yang lebih tinggi dibandingkan proyeksi sebelumnya.

Menurut dia, kehadiran perangkat dengan desain lipat tiga serta perkembangan produk dari berbagai produsen dapat memperluas daya tarik kategori tersebut di pasar global.

Salah satu faktor yang dinilai berpotensi mengubah persaingan adalah kemungkinan kehadiran iPhone lipat pertama pada akhir 2026.

Wakil Presiden IDC untuk Perangkat Klien, Francisco Jeronimo, menilai langkah Apple memasuki kategori baru dapat meningkatkan perhatian konsumen terhadap ponsel lipat.

Apple selama ini dinilai memiliki kemampuan mendorong adopsi produk baru ke pasar yang lebih luas. Meski demikian, smartphone lipat diperkirakan masih menjadi segmen khusus jika dilihat dari sisi volume penjualan.

Dari sisi bisnis, kategori ini tetap menarik bagi produsen karena harga jual rata-ratanya diperkirakan dapat mencapai tiga kali lipat harga smartphone standar.

Selain Apple dan Samsung, Huawei juga diperkirakan memperkuat posisinya melalui perangkat berbasis HarmonyOS Next. IDC memproyeksikan pengiriman ponsel lipat Huawei hampir dua kali lipat pada 2026.

IDC juga memperkirakan pasar smartphone lipat mencatat pertumbuhan tahunan gabungan atau compound annual growth rate (CAGR) sebesar 17 persen hingga 2029. Angka tersebut jauh di atas proyeksi pertumbuhan smartphone konvensional yang diperkirakan kurang dari 1 persen.

Di balik peluang pertumbuhan tersebut, industri smartphone masih menghadapi tekanan dari kenaikan biaya produksi.

Kelangkaan chip memori diperkirakan berdampak pada berbagai produk elektronik, mulai dari komputer dan smartphone hingga peralatan rumah tangga.

Sejumlah analis yang dikutip Financial Times sebelumnya memperkirakan harga ritel perangkat elektronik berpotensi meningkat hingga 20 persen. Jika kenaikan harga tidak diikuti peningkatan kemampuan perangkat yang signifikan, konsumen berpeluang menunda pembelian.

IDC bahkan memperkirakan pasar smartphone global dapat mengalami penurunan hingga 5 persen pada 2026 dalam skenario pesimistis.

Kondisi ini juga berkaitan dengan kebiasaan konsumen yang semakin lama menggunakan perangkat sebelum menggantinya. Siklus penggantian yang lebih panjang membuat produsen perlu menawarkan inovasi yang benar-benar memberikan nilai tambah.

Dalam proyeksi IDC, Android diperkirakan menguasai 61 persen pasar smartphone lipat pada 2026, diikuti Apple sebesar 22 persen dan HarmonyOS Next sebesar 17 persen.

Meski begitu, angka-angka tersebut masih berupa proyeksi yang dapat berubah mengikuti kondisi ekonomi, ketersediaan komponen, dan respons konsumen.

Dengan demikian, tren smartphone lipat belum tentu membuat ponsel konvensional segera ditinggalkan. Namun, persaingan pada 2026 diperkirakan semakin bergantung pada kemampuan produsen menghadirkan inovasi yang sepadan dengan harga yang dibayarkan konsumen.***

Pos terkait