Fajarasia.id – Wakil Menteri Ekonomi Kreatif Irene Umar menegaskan pentingnya menjaga keberlanjutan jamu sebagai bagian dari identitas kuliner Indonesia. Hal itu ia sampaikan dalam penutupan Festival Jamu Nusantara di Taman Fatahillah, Kota Tua Jakarta, Minggu (16/11).
Menurut Irene, jamu tidak boleh hanya dipandang sebagai minuman tradisional yang kian sulit ditemukan. Kini, para peracik jamu bahkan sudah bisa memanfaatkan platform digital untuk berjualan. “Ini penting untuk membudidayakan kembali budaya minum jamu agar kita tidak lupa akar budaya,” ujarnya.
Irene menekankan bahwa penggunaan rempah dalam jamu memiliki nilai historis yang kuat. Ia menggambarkan perjuangan para peracik jamu gendong yang setiap hari membawa beban berat demi menjaga tradisi. “Setiap botol jamu yang kita nikmati punya perjalanan panjang sebelum sampai ke tangan masyarakat,” katanya.
Ia juga menilai pelestarian jamu perlu melibatkan pelaku usaha modern agar konsumsi jamu kembali tumbuh. Pendekatan yang memadukan tradisi dan inovasi disebut dapat membantu memperkenalkan jamu kepada generasi muda.
Founder Acaraki, Jony Yuwono, menambahkan bahwa momentum Hari Pahlawan dipilih untuk mengangkat ketelatenan peracik jamu gendong sebagai simbol keteguhan budaya. “Mereka bangun jam empat pagi untuk mengolah bahan segar, lalu berjalan berbelas kilometer tanpa mengenal hujan atau panas. Semangat itu yang ingin kami ingatkan kembali,” ujarnya.
Jony juga menekankan pentingnya mengenalkan sosok-sosok pekerja harian yang menjadi penopang keluarga, mulai dari peracik jamu hingga pekerja informal seperti penyapu jalan dan pengemudi ojek.
Penutupan festival ini turut menghadirkan pertunjukan musik, permainan tradisional, hingga fashion show yang menampilkan kekayaan rempah Indonesia. Acara tersebut diharapkan dapat menarik minat publik sekaligus memperkuat posisi jamu sebagai warisan kuliner yang layak dilestarikan.****




