Fajarasia.id – Pemerintah Kabupaten Cianjur, Jawa Barat, menyiapkan skema alih profesi. Ini khusus bagi petani terdampak gempa bumi bermagnitudo 5,6 di wilayah setempat.
“Kami sedang mendata untuk melihat apakah sawahnya ada yang mengalami patahan. Kami akan konsultasi dengan Direktorat Jenderal Prasarana dan Sarana Pertanian, apakah masih memungkinkan atau tidak untuk tetap dipakai,” kata Kepala Bidang Tanaman Pangan Dinas Pertanian Kabupaten Cianjur Dandan Hendrayana kepada wartawan, Kamis (01/12/2022).
Lebih jauh, Dandan mengungkapkan, pihaknya akan merinci terkait zona merah gempa atau berpotensi membahayakan keselamatan. Di mana nanti akan disiapkan skema relokasi mata pencarian dari bertani ke sektor jasa atau perdagangan.
“Skema lainnya bagi petani korban gempa adalah normalisasi lahan sawah. Kami juga ada skema recovery sawah melalui pendekatan terasering. Lahan yang tertimbun, kami padatkan, kemudian optimalisasi ulang lahan,” ujarnya.
Dandan mengatakan, hingga saat ini Pemkab Cianjur bersama Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BNPB) setempat masih mendata kerugian materi. Akibat gempa bumi yang diderita petani.
“Kami masih mendata untuk menaksir berapa kerugiannya. Dan edang berkoordinasi dengan pihak terkait untuk memproses ganti ruginya,” katanya.
Populasi petani di Cianjur saat ini berjumlah 237 ribuan orang yang terdata dari 3.700 kelompok tani. Berdasarkan hasil pendataan di lapangan per 29 November 2022, lahan sawah di Kabupaten Cianjur yang terdampak gempa mencapai 317 hektare dari total 66.934 hektare.
“Kerusakan lahan sawah terbagi atas tiga kategori, rusak berat 79 hektare, rusak sedang 88 hektare, rusak ringan 150 hektare. Gambaran secara umum tidak semua lahan sawah di kecamatan terdampak, hanya sebagian saja. Yang paling kena dampak di Kecamatan Cugenang, Cianjur, Karangtengah, dan Cilaku,” ucapnya.
Selain itu, ada juga saluran irigasi yang rusak sepanjang 175 meter, bangunan air parit empat unit. Lalu bangunan penyuluh pertanian terdampak di Kecamatan Mande, Cianjur, Cugenang.****





