Fajarasia.id – Wakil Ketua Komisi V DPR RI, Syaiful Huda, menekankan pentingnya pemerintah mengedepankan pendekatan ilmiah dalam menanggapi peringatan dini Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) terkait bibit siklon tropis 93S yang muncul di wilayah timur Indonesia.
Menurut Huda, langkah berbasis sains akan membantu meminimalkan dampak bencana hidrometeorologi, seperti banjir dan longsor, yang sebelumnya melanda sejumlah daerah di Sumatera.
“Jangan pernah meremehkan peringatan BMKG. Pemerintah harus mengedepankan pendekatan saintifik agar dampak bencana bisa ditekan,” tegasnya dalam keterangan di Jakarta, Selasa (16/12/2025).
Berdasarkan analisis BMKG, bibit siklon tropis 93S berpotensi menimbulkan gelombang tinggi di perairan selatan Jawa Timur hingga Nusa Tenggara Timur (NTT). Kondisi ini dinilai berbahaya bagi masyarakat pesisir karena dapat memicu kecelakaan laut maupun banjir rob. Selain itu, intensitas hujan sedang hingga lebat diperkirakan terjadi di Bali, NTB, dan NTT, sehingga meningkatkan risiko banjir bandang dan tanah longsor.
Huda meminta pemerintah pusat memperkuat koordinasi dengan pemerintah daerah untuk mengantisipasi dampak terburuk. Ia juga menekankan perlunya sistem peringatan dini yang disesuaikan dengan kearifan lokal, seperti penggunaan sirene, pengeras suara di tempat ibadah, atau kentongan, agar masyarakat segera mengungsi saat terjadi bencana.
“Early warning berbasis kearifan lokal sangat penting. Pemerintah juga harus menyiapkan titik evakuasi agar warga di daerah rawan bisa segera berkumpul di lokasi aman,” ujarnya.
Selain itu, Huda mendorong Basarnas, BNPB, dan BPBD di daerah untuk meningkatkan kesiapsiagaan menghadapi potensi bencana. Ia menegaskan bahwa kesiapan aparat dan masyarakat menjadi kunci dalam mengurangi risiko korban jiwa.
Sebelumnya, BMKG melaporkan kemunculan bibit siklon tropis 93S di perairan selatan NTB yang berpotensi menimbulkan cuaca ekstrem di Jawa Timur dan kawasan Kepulauan Sunda Kecil.****





