Fajarasia.id – Mantan komandan Korps Garda Revolusi Islam Iran (IRGC), Hussein Kanani, membuat pernyataan mengejutkan dengan menuding Arab Saudi telah memiliki senjata nuklir. Ia menegaskan bahwa Amerika Serikat dan Israel sepenuhnya mengetahui keberadaan bom tersebut.
Dalam wawancara dengan RT, Kanani menyebut informasi itu berasal dari intelijen dan menekankan bahwa aktivitas nuklir Saudi bukanlah rahasia bagi Washington maupun Tel Aviv.
Selain itu, Kanani menuding badan intelijen asing seperti Mossad dan CIA terlibat dalam mendukung gelombang protes antipemerintah di Iran. Menurutnya, tujuan mereka bukan sekadar menggulingkan pemerintahan, melainkan memecah belah Iran dan mengeksploitasi situasi.
Pernyataan ini muncul di tengah meningkatnya ketegangan antara Washington dan Teheran, terutama setelah serangan udara AS terhadap fasilitas nuklir Iran pada Juni lalu. Iran menuduh AS dan Israel berada di balik kerusuhan besar yang melanda sejumlah kota.
Presiden AS Donald Trump merespons dengan pengerahan kapal induk USS Abraham Lincoln ke Timur Tengah, menuntut Iran membatasi pengayaan uranium dan program rudal balistik. Namun, Teheran justru mengklaim telah meningkatkan kemampuan persenjataan rudalnya dan mengubah doktrin militernya ke arah ofensif.
Kanani memperingatkan, jika Washington menyerang, Iran mungkin akan merespons dengan menargetkan Israel terlebih dahulu, bukan pangkalan AS. Ia juga menyinggung kemungkinan penutupan Selat Hormuz sebagai langkah strategis menekan Amerika.





