Fajarasia.id – Menjelang perayaan Natal, Pastor Kepala Gereja Katedral Jakarta, Romo Hani Rudi Hartono, mengingatkan kembali makna sejati sosok Santa Klaus. Menurutnya, figur yang kerap hadir dalam tradisi Natal ini bukan sekadar ikon hiburan, melainkan pelindung bagi anak-anak dan kaum miskin.
“Dalam tradisi Gereja Katolik, Santa Klaus dikenal sebagai pelindung anak-anak dan kelompok orang miskin,” ujar Romo Hani melalui akun Instagram resmi @katedraljakarta, Rabu (24/12/2025).
Ia menjelaskan, sosok Santa Klaus berakar dari tokoh historis Santo Nikolaus, seorang uskup abad keempat yang dikenal dermawan. Santo Nikolaus digambarkan sebagai pribadi penuh kasih yang gemar berbagi hadiah dan membantu mereka yang membutuhkan.
Nilai solidaritas dan kepedulian itu, kata Romo Hani, menjadi inti dari tradisi Santa Klaus yang berkembang selama berabad-abad. Namun, ia menilai makna tersebut kini mulai bergeser.
“Semakin lama semakin menjauh dari makna historisnya. Hingga pada akhirnya menjadi lebih pada komersialisasi,” tegasnya.
Romo Hani juga menyinggung perubahan citra Santa Klaus yang terjadi di Amerika Serikat. Sosok ini kemudian dijadikan ikon sebuah minuman bersoda berwarna merah, sehingga identik dengan kostum merah yang populer hingga kini.
Senada dengan Romo Hani, Imam Keuskupan Agung Bandung, Romo Istimoer Bayu Ajie, menambahkan bahwa Santa Klaus yang asli justru berpakaian layaknya uskup dengan jubah hijau.
“Santa Claus yang asli berpakaian uskup, bajunya hijau. Biasanya pakaian hijau,” jelasnya.
Keduanya berharap masyarakat tidak melupakan makna historis Santa Klaus sebagai simbol kasih dan perlindungan, terutama bagi anak-anak dan kaum miskin, di tengah perayaan Natal yang semakin sarat nuansa komersial.





