Proyek Raksasa Arab Terancam Akibat Perang Israel, AS vs Iran

Fajarasia.id – Ambisi besar Putra Mahkota Arab Saudi, Mohammed bin Salman (MBS), untuk menjadikan kerajaan sebagai pusat inovasi dan bisnis dunia melalui proyek Vision 2030 kini berada dalam bayang-bayang konflik. Ketegangan militer di Timur Tengah, menyusul serangan Amerika Serikat dan Israel terhadap Iran pada 28 Februari, memicu balasan Iran ke sejumlah negara Teluk, termasuk Arab Saudi.

Serangan drone dan rudal Iran sempat menghantam kilang minyak Ras Tanura, membuat operasional terhenti dan mengguncang rasa aman yang selama ini dibanggakan kawasan Teluk. Kondisi ini dinilai para analis berpotensi menghambat jalannya proyek ambisius Saudi, termasuk megaproyek Neom senilai lebih dari US$490 miliar.

Direktur Eksekutif Gulf International Forum, Dania Thafer, menilai ketidakstabilan berkepanjangan akan merusak narasi transformasi ekonomi Saudi. “Visi 2030 mengasumsikan investor global melihat Saudi sebagai lingkungan stabil. Asumsi itu kini sulit dipertahankan,” ujarnya, Senin (10/3/2026).

Selain ancaman terhadap investasi, para pakar juga menyoroti dampak krisis terhadap keberadaan ekspatriat senior yang menjadi kunci bagi Saudi dalam menarik perusahaan multinasional. Dr. Neil Quilliam dari Chatham House menekankan, hilangnya eksekutif asing dapat melemahkan daya tarik Riyadh sebagai pusat bisnis regional.

Meski begitu, sejumlah pengamat menilai Saudi memiliki daya tahan lebih baik dibanding UEA karena skala wilayahnya yang luas serta dukungan harga minyak yang tinggi. Namun, jika konflik berlarut, proyek transformasi MBS bisa terguncang dan menunda ambisi Saudi menyaingi Dubai sebagai pusat bisnis global.***

Pos terkait