Presiden Jokowi tiba di Tanah Air usai hadiri KTT ASEAN-EU di Brussels

Presiden Jokowi tiba di Tanah Air usai hadiri KTT ASEAN-EU di Brussels

Fajarasia.id -Presiden RI Joko Widodo dan Ibu Negara Iriana Jokowi tiba di Bandara Internasional Soekarno-Hatta, Tangerang, Banten, Kamis malam, setelah lawatan ke Brussels, Belgia, untuk menghadiri KTT ASEAN-Uni Eropa dan sejumlah pertemuan.

Presiden Jokowi tiba di Indonesia setelah menempuh penerbangan selama lebih kurang 14 jam dari Brussels.

Tampak menyambut Presiden dan Ibu Negara di bawah tangga pesawat, yakni Sekretaris Kabinet Pramono Anung, Panglima TNI Jenderal Andika Perkasa, Kapolri Jenderal Listyo Sigit Prabowo, dan Penjabat Gubernur Banten Al Muktabar.

Selanjutnya, Presiden Jokowi dan Ibu Iriana dengan rangkaian kendaraan terbatas langsung melanjutkan perjalanan ke Istana Kepresidenan Bogor.

Turut mendampingi Presiden Jokowi dan Ibu Iriana dalam penerbangan dari Brussels, Belgia, yaitu Menteri Sekretaris Negara Pratikno, Sekretaris Militer Presiden Laksda TNI Hersan, Komandan Paspampres Marsda TNI Wahyu Hidayat Sudjatmiko, dan Deputi Bidang Protokol, Pers, dan Media Sekretariat Presiden Bey Machmudin.

Dalam KTT Peringatan 45 Tahun ASEAN-Uni Eropa (EU) di Brussels, Rabu (14/12), Presiden Jokowi menyampaikan bahwa kemitraan negara-negara anggota ASEAN dan Uni Eropa harus didasarkan pada kesetaraan dan tidak boleh ada pemaksaan.

“Jika ingin kita membangun sebuah kemitraan yang lebih baik maka kemitraan harus didasarkan pada kesetaraan dan tidak boleh ada pemaksaan. Tidak boleh lagi ada pihak yang selalu mendikte dan beranggapan bahwa my standard is better than yours,” kata Presiden.

Selama 45 tahun, kata Jokowi, kemitraan ASEAN dan Uni Eropa telah membuahkan hasil yang baik. Namun, Jokowi juga mengakui bahwa tidak semua kemitraan baik-baik saja sehingga banyak perbedaan yang harus diselesaikan.

Oleh sebab itu, Presiden meminta negara-negara anggota Uni Eropa untuk dapat bermitra secara kesetaraan dengan ASEAN.

Apalagi selama beberapa dekade, kawasan Asia Tenggara telah menjadi economic powerhouse, yang memberikan kerja sama saling menguntungkan karena memanfaatkan keunggulan dan produktivitas masing-masing negara.

“Semua proyeksi mengatakan bahwa Asia Tenggara akan tetap menjadi pusat pertumbuhan. Dengan demikian, kemitraan dengan ASEAN dipastikan akan menguntungkan,” kata Kepala Negara.

Pos terkait