Fajarasia.id – Pimpinan Pusat Gerakan Pemuda Al-Washliyah (PP GPA) menyoroti maraknya praktik judi online yang hingga kini belum mampu diberantas. Ketua Umum PP GPA, Aminullah Siagian, menilai Menteri Komunikasi dan Digital (Menkodigi) Meutya Hafid gagal menjalankan mandat negara dalam melindungi masyarakat dari kejahatan digital terorganisasi.
Menurut Aminullah, fenomena judi online saat ini justru semakin vulgar dan sistematis, menjerat masyarakat kecil serta memperparah kondisi sosial-ekonomi. “Perintah Presiden Prabowo sangat jelas: berantas judi online tanpa kompromi. Namun kenyataannya, praktik ini masih marak dan semakin menggurita,” ujarnya, Sabtu (17/1/2026).
Ia menilai kegagalan pemberantasan judi online bukan sekadar persoalan teknis, melainkan mencerminkan krisis kepemimpinan dan keberanian politik di kementerian terkait. “Kalau hanya sibuk memblokir domain, besok akan muncul ribuan domain baru. Itu bukan strategi, melainkan reaksi panik,” tegasnya.
Aminullah juga menyoroti lemahnya diplomasi digital dan kerja sama internasional. Menurutnya, tidak ada langkah agresif untuk menekan negara-negara yang menjadi pusat industri judi online, seperti Kamboja. “Negara seolah kalah langkah dari bandar judol. Ini ironi besar,” katanya.
Lebih jauh, ia menyebut judi online telah menjadi kejahatan struktural yang menghancurkan ekonomi keluarga, memicu kriminalitas, memperdalam kemiskinan, dan merusak mental generasi muda. “Setiap hari rakyat kecil kalah, keluarga hancur, dan generasi muda dirusak algoritma kejahatan. Jika negara lemah, pejabat yang bertanggung jawab tidak layak bertahan di kursi kekuasaan,” tegas Aminullah.
Sebagai bentuk desakan, Aminullah meminta Menkodigi Meutya Hafid untuk mundur jika tidak mampu memberantas judi online. “Mengundurkan diri adalah langkah terhormat. Lebih baik mundur daripada terus mempertontonkan kegagalan yang dibayar mahal oleh penderitaan rakyat,” pungkasnya.





