Perang Iran Guncang Ekonomi AS, Ancaman Resesi Menguat

Perang Iran Guncang Ekonomi AS, Ancaman Resesi Menguat

Fajarasia.id – Perekonomian Amerika Serikat (AS) yang selama ini dikenal tangguh kini menghadapi tekanan besar akibat perang di Timur Tengah. Konflik antara AS dan Iran memicu gangguan pasokan minyak global serta lonjakan harga energi, menimbulkan kekhawatiran akan terjadinya resesi di Negeri Paman Sam.

Gangguan pasokan minyak disebut sebagai salah satu yang terbesar dalam sejarah. Harga minyak yang sempat menyentuh US$119 per barel mendorong kenaikan biaya di berbagai sektor, mulai dari transportasi hingga industri penerbangan. Kondisi ini membuat peluang resesi AS melonjak hingga 35%, naik tajam dari 20% pada awal Februari.

Profesor ekonomi University of Michigan, Justin Wolfers, menilai ekonomi AS sudah lama berada di ambang resesi. “Dibutuhkan satu pemicu saja untuk menjatuhkannya. Apakah minyak bisa menjadi pemicunya? Sangat mungkin,” ujarnya.

Meski begitu, sejumlah ekonom masih percaya AS mampu bertahan. Kepala Ekonom RSM, Joe Brusuelas, menekankan bahwa ekonomi AS senilai US$30 triliun masih cukup tangguh menyerap guncangan. Namun, risiko akan meningkat drastis jika harga minyak menembus US$125 per barel, harga bensin mencapai US$4,25 per galon, dan inflasi kembali naik hingga 4% per tahun.

Pasar tenaga kerja yang melemah menambah tekanan. Sepanjang 2025, AS hanya menambah sekitar 116.000 pekerjaan, angka terendah di luar masa resesi sejak 2002. Bahkan dalam sembilan bulan terakhir, lima di antaranya mencatat kehilangan pekerjaan.

Selain itu, penurunan tajam di pasar saham dan melemahnya kepercayaan bisnis juga berpotensi mempercepat resesi. Jika konsumen mulai menahan belanja dan perusahaan menunda ekspansi, efek domino bisa terjadi pada perekonomian.

Dengan kombinasi harga energi yang melonjak, pasar tenaga kerja rapuh, dan ketidakpastian geopolitik, ancaman resesi di AS kini semakin nyata.****

Pos terkait