Fajarasia.id – Myanmar mulai memulangkan ratusan pekerja asal Tiongkok yang sebelumnya bekerja di pusat-pusat penipuan daring. Pemulangan ini dilakukan melalui Thailand, dengan kelompok pertama yang dikirim pada Kamis (20/2/2025).
Mengutip laman CNA, pada hari ini, dua bus tingkat membawa kelompok pertama ke pos perbatasan di kota Mae Sot, Thailand. Sebanyak 600 pekerja Tiongkok dijadwalkan dipulangkan dalam tiga hari ke depan.
Sebanyak 50 warga negara Tiongkok telah melintasi perbatasan menuju bandara, tiga kelompok tambahan dijadwalkan menyusul pada hari yang sama. Sementara itu, ribuan pekerja asing lainnya diperkirakan akan menyusul dalam beberapa minggu mendatang.
Tiongkok telah menyiapkan 16 penerbangan dalam tiga hari ke depan untuk membawa warganya pulang langsung dari Mae Sot. Personel keamanan Tiongkok akan mendampingi para pekerja dalam penerbangan tersebut, meskipun belum jelas nasib mereka setelah tiba di Tiongkok.
Pemulangan ini merupakan hasil dari beberapa kunjungan pejabat Tiongkok ke Bangkok dan perbatasan Myanmar-Thailand dalam beberapa minggu terakhir. Asisten Menteri Keamanan Publik Tiongkok, Liu Zhongyi, memimpin upaya repatriasi ini.
Ini dilakukan sebagai bagian dari tekanan Tiongkok terhadap Myanmar dan Thailand untuk segera menutup pusat-pusat penipuan. Pusat-pusat penipuan ini dijalankan oleh geng kriminal dan banyak mempekerjakan pekerja asing yang mengaku menjadi korban perdagangan manusia.
Mereka dipaksa melakukan penipuan daring terhadap korban di seluruh dunia. Mayoritas pekerja berasal dari Tiongkok, yang mendorong pemerintah Beijing menekan Myanmar dan Thailand untuk menutup pusat-pusat penipuan tersebut.
Sekitar 10.000 orang yang terkait dengan pusat-pusat penipuan di wilayah di perbatasan dengan Thailand akan dideportasi. Langkah ini dilakukan oleh Pasukan Penjaga Perbatasan Karen (BGF), sebuah milisi yang bersekutu dengan junta Myanmar.
Fenomena pusat penipuan daring telah berkembang pesat di Asia Tenggara, termasuk di Kamboja dan Filipina. Banyak pekerja mengaku ditipu dengan janji pekerjaan bergaji tinggi sebelum akhirnya dijadikan sandera.
Paspor mereka disita, dan mereka dipaksa untuk melakukan berbagai modus penipuan daring. Sejumlah korban yang berhasil dibebaskan mengaku mengalami pemukulan dan penyiksaan dari para pengawas mereka.
Pemulangan ini menjadi langkah awal dalam upaya menutup jaringan kriminal yang mengoperasikan pusat-pusat penipuan di Myanmar. Komunitas internasional didesak untuk bekerja sama dalam memberantas perdagangan manusia dan kejahatan penipuan daring yang semakin meluas.***




